Warga Sedaeng Pertanyakan Proyek Jamban Gak Jelas

pengadaan jamban yg tidak jelas

” Material Jamban Yang Tidak Jelas “

Pasuruan, BeritaTKP. Com – Keinginan 50 warga desa Sedaeng, kecamatan TosariKabupaten Pasuruan untuk memiliki jamban. Agar bisa hidup bersih dan layak sepertinya akan pupus. Bagaimana tidak, setelah ada survey dari dinas Cipta Karya, Dinas Kesehatan kabupaten Pasuruan beserta konsultan perencana beberapa bulan lalu untuk pengadaan jamban hingga semester 2 tahun 2016 ini mangkrak. Bahkan drooping material berupa beton bis, paralon PVC, clossed jongkok dan semen jadi barang tek berguna dan rusak.

Seperti yang di sampaikan beberapa warga sedaeng, Nur (25), salah satunya. Dirinya merasa kecewa dengan program yang tidak kunjung terealisasi.”Padahal warga sini menanti sejak lama, tapi kenytaannya hingga sekarang tidak di bangun-bangu”,ungkap Nur dengan mimik kecewa saat ditanya dilokasi penumpukan beton bis tepatnya di depan kantor desa Sedaeng.

Hal yang sama juga disampaikan kepala desa (kades) Sedaeng, Sukardji, (50) kepada Berita TKP. Selaku kades, dirinya berulang kali jadi jujukan pertanyaan warga perihal pengadaan jamban yang hampir 2 bulan lebih drooping material terbiarkan.

“Bagaimana tidak bingung, saya di pimpong. Saat menanyakan ke Dinas Cipta Karya katanya pengadaan jamban tersebut program dari Dinas Kesehatan. Begitu sebaliknya kata sekretaris Dinas Kesehatan katanya program Cipta Karya”, tegas Sukardji yang tidak habis piker program apa ini sebenarnya…?

Baca Juga :  Mengungkap Mafia Jaringan Jual Beli Rekening Di Rutan Medaeng

Menurut Sukarji, kekecewaan warga sangat beralasan, disatu sisi warga disarankan hindup bersih dengan memeiliki jamban di setiap rumah, disisi lain ada pengadaan jamban yang tidak jelas.”Kalau memang dikerjakan rekanan, siapa rekanannya, dari CV apa. Jangan drooping material tanpa permisi tidak ada kejelasan kapan mulai dan kapan selesainya. Ini namanya proyek gak jelas”, tegas Kades Sedaeng 2 periode ini pada BeritaTKP dengan nada tinggi.

Selama 2 bulan lebih ini keberadaan material, lanjut Sukardji, juga banyak yang rusak. Bahkan semen sudah mengeras semua tidak bisa digunakan. Begitupun dengan beton bis yang ada. Hingga berita ini diturunkan baik dinas Cipta Karya maupun Dinas Kesehatan belum berhasil dikonfirmasi. Siapa yang bertanggung jawab dengan pengadaan jamban yang juga tidak jelas besaran dan sumber anggarannya tersebut. Bersambung,’Material tidak berkualitas’….(TTk)

print
(Visited 51 times, 1 visits today)

Shortlink: