MUI Kabupaten Pasuruan Menolak Tegas Pelaksanaan Sekolah 5 Hari

Pasuruan, BeritaTKP.Com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pasuruan, secara tegas menolak Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah. Keputusan tersebut diterbitkan setelah pihak MUI menerima masukan dari berbagai pihak seperti PCNU, kalangan Pondok Pesantren (Ponpes) maupun Madrasah Diniyah (madin) se Kabupaten Pasuruan dan para Kiai.

Ketua MUI Kabupaten Pasuruan, KH Nurul Huda mengungkapkan, bahwa berdasarkan sarasehan masukan dari PCNU, berbagai pihak dan masyarakat serta para Kiai, maka kami memutuskan untuk mendesak pada pemerintah untuk membatalkan tentang peraturan kemendikbud penerapan lima hari sekolah tersebut. “Harus dibatalkan,”ujar Gus Huda sapaan akrabnya, saat dihubungi, Selasa (25/7).

Menurutnya, tujuan Negara Indonesia yang tertuang di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negera Indonesia di antaranya mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk merelisasikan salah satu tujuan itu telah diatur dalam Tujuan Pendidikan menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, yang melandasi seluruh pendidikan yang berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa.

Ia menjelaskan, dari isi Undang-Undang tersebut sudah jelas berbunyi, “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, “urainya.

Gus Huda menambahkan, untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut Negara telah memberikan ruang kepada siapapun untuk berbuat, baik Pemerintah maupun masyarakat untuk bersama mendirikan lembaga pendidikan baik formal, non formal maupun informal.

Karenanya untuk mewujudkan salah satu tujuan Pendidikan Nasional agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Baca Juga :  116.000 Ton Garam Impor dari Australia Di Segel

Selain itu, juga berakhlak mulia membutuhkan konsep pendidikan yang terintegrasi antara pendidikan yang berbasis sekolah dengan pendidikan yang berbasis madrasah atau berbasis keagamaan yang lain. “Bahwa pendidikan agama dan membentuk karakter akhlaq yang baik pada anak anak membutuh ketauladanan baik oleh guru maupun orang tua serta butuh waktu yang lama, “ungkapnya.

Sementara itu, lanjut dia, penerapan pendidikan agama di sekolah di semua jenjang hanya diberikan waktu selama 2 jam pelajaran atau setara dengan 1,5 jam dalam satu minggu, sehingga mustahil bisa merealisasikan tujuan pendidikan tersebut. Padahal keberadaan Madrasah Diniyah (Madin) sebagai pendidikan non formal  sudah eksis sebelum negara ini berdiri.

Tak hanya itu, juga telah memberikan kontribusi dalam membangun pemahaman pembimbingan agama dan akhlaq dan hasilnya sudah sangat dirasakan oleh masyarakat.

“Meski dalam memberikan pendidikan itu dilakukan pada pukul 2 sampai 5 sore setelah anak anak pulang dari sekolah. Karenanya dengan kebijakan menteri pendidikan yang tertuang dalam Peraturan Mendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang hari sekolah perlu ditinjau ulang, “jelasnya.

Peraturan tersebut, kata Gus Huda, pada dasarnya mengacu pada guru terkait beban kerja guru (minimal) 24 jam tatap muka dalam satu minggu, bukan jam siswa. Tentunya hal ini, akan berdampak juga pada pelaksanaan jam sekolah murid yang dilakukan pada pukul 07.00 sampai 16.00 sore. Diakuinya kebijakan Mendikbud tersebut akan sangat berdampak pada proses belajar mengajar di Madin dan atau Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di daerah.

Baca Juga :  BAKSOS TNI MANUNGGAL KB-KES OLEH KODIM 0830

Pihaknya menganggap bahwa yang pasti anak akan lebih terfokus pada kewajiban di sekolahnya dari pada masuk pada Madin maupun TPQ.

“Akibat yang ditimbulkan adalah murid atau santri pada madin dan TPQ menjadi berkurang banyak dan bisa habis, karena sebagian besar mereka masuk dalam dua bentuk lembaga pendidikan yang berbeda tersebut, “ujar Gus Huda.

Dikatakannya, bahwa nantinya anak anak sudah tidak lagi mendapat pendidikan agama dan akhlaq yang memadahi. Yang akhirnya anak didik makin jauh dengan agama dan akhkaq yang baik. TT/NDA @tatak

print
(Visited 31 times, 1 visits today)

Shortlink: