Polda Jatim Grebek Home Industry Merkuri

Surabaya, BeritaTKP.Com – Tim Polda Jawa Timur berhasil menggerebek home industry bahan berbahaya dan beracun (B3) jenis merkuri (air raksa), dalam penggerebekan tersebut prtugas berhasil menyita sekitar 9,7 ton merkuri yang siap diedarkan ke masyarakat penambang emas.

Unit II Subdit IV Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Ditreskrimsus Polda Jatim menggrebek home industri merkuri, di Dusun Krajan, Desa Jlodro, Kecamatan Kenduruan, Kabupaten Tuban Pada Minggu 24 September lalu, dan saat dilakukanya penggrebekan tersebut sebanyak 6 pekerja yang sedang melakukan pengolahan Batu Cinnabar dari Maluku Utara.

“Merkuri ini menjadi perhatian pimpinan kita. Rapat koordinasi sudah dilakukan di Kemenkopolhukam, tentang pelarangan peredaran merkuri ini, Bahan baku merkuri ini didatangkan dari Ambon,” ungkap Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin.

Untuk membongkar home industri merkuri, polisi mengubek-ubek hutan di kawasan perbatasan antara Kabupaten Tuban-Jawa Timur dengan Blora-Jawa Tengah. Sekitar seminggu tim Unit II dan dipimpin Kasubdit Tipiter AKBP Rofiq, menyelidiki hingga menemukan home industri merkuri milik tersangka S-warga Malang.

Dalam kasus ini Sebanyak 9,7 ton batu cinnabar diamankan polisi, Batu tersebut dari Desa Ihalulu, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram, Maluku. Batu tersebut dikirim ke Surabaya melalui jalur laut. Setelah tiba, batu tersebut dikirim ke lokasi. Setelah tiba di home industri, Batu Cinnabar itu diolah dan dicampur dengan gamping (batu kapur) dan serbuk besi, hinga menghasilkan merkuri (air raksa).

Dan selanjutnya Setelah menjadi bahan olahan jadi, merkuri akan disebar dan dijual ke masyarakat penambang emas, Dari hasil penggerebekan itu, polisi mengamankan barang bukti 80 dus merkuri hasil olahan, masing-masing seberat 20 kilogram. 100 Kg merkuri tersimpan di dalam ember, 90 tabung suling, 1 unit mesin penggiling Batu Cinnabar, 1 timbangan digital, 4 karung berisi batu kapur, 65 karung ampas atau limbah pembakaran, hingga buku rekening.

Baca Juga :  Kesiapan Dinas PU dan Penataan Ruang Tanggap Darurat Bencana Alam

“Bahan baku merkuri ini didatangkan dari Ambon, Batu dari Seram dibawa ke sini. Kemudian, bahan campuran untuk membuat merkuri di sini itu banyak misalnya kapur, serpihan besi, untuk Keuntungan dalam perdagangan limbah merkuri ini cukup lumayan. Dari modal Rp 600 juta, bisa menghasilkan Rp 1,2 milliar,” imbuh Irjen Pol Machfud Arifin.

Bahan merkuri tersebut rencananya dijual ke wilayah yang ada penambangan emas dari masyarakat seperti di wilayah Ambon, Kalimantan dan daerah penambangan emas lainnya, kapolda juga menjelaskan bahwa Merkuri ini berbahaya, termasuk kategori B3, merusak lingkungan dan kesehatan manusia. Airnya semacam air keras.

Dalam proses pemeriksaan ternyata tersangka Dia sebelumnya bekerja di Ambon (membuat merkuri). Tapi di sana sudah ketat, sehingga dia pindah ke Tuban, tak hanya itu dihadapan polisi, tersangka S (pemilik home industri merkuri) mengaku baru sekali ini menjalankan usahanya, S, diperkirakan beroperasi memimpin home industri merkuri di wilayah hutan jati di Tuban pada awal tahun ini. Namun, diperkirakan belum sampai diedarkan, keburu digrebek polisi.

Sementara itu Kepala Dinas ESDM Pemprov Jatim menegaskan, produksi dan penggunaan merkuri dilarang, Made juga mengatakan, ungkap kasus produksi merkuri yang tangani Subdit Tipiter Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Timur ini merupakan yang pertama kali terjadi di Jatim.

“Tambang emas tidak boleh memakai merkuri. Kalau sudah dilarang, kami nggak izinkan penggunaan merkuri,, Saya jamin belum ada perusahaan di Jawa Timur baik itu melalui dinas penanaman modal, dinas ESDM, saya jamin belum ada perusahaan pengolahan merkuri,” ujar Kepala Dinas ESDM Pemprov Jatim I Made Sukartha.

Ia juga menegaskan, jika pun ada perusahaan yang mengajukan izin tentang pertambangan, terutama yang berkaitan dengan merkuri, pihaknya akan menerapkan seleksi ketat, tak hanya itu pemanfaatan merkuri sudah dilarang. Larangan tersebut berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan Kementerian Polhukam.

Baca Juga :  Kamera Tilang Efektif Menekan Jumlah Pelanggar Lalin

“Kalau pun ada perusahaan yang mengajukan izin mengolah produk dengan merkuri, kami sangat teliti dan akan melibatkan banyak unsur, Izin-izin terhadap penambangan emas sangat ketat, karena sudah dilarang penggunaan merkuri. Merkuri ini bahan sangat berbahaya untuk lingkungan maupun manusia. Jadi saya tegaskan lagi, perusahaan tambang emas tidak boleh menggunakan merkuri,”

Kini akibat perbuatan yang dilakukannya, S melanggar Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan mineral dan batubara pasal 161 tentang, Setiap orang atau pemegang IUP operasi produk atau IUPK operasi produksi yang menampung, emanfaatkan melakukan pengolahan dan pemurnian, pengangkutan, penjualan mineral dan batu bara yang bukan dari pemegang IUP, IUPK atau izin sebagaimana dimaksud dalam pasal 37, 40 ayat (3), pasal 43 ayat 2, pasal 48, pasal 67 ayat 1, pasal 74 ayat 1, pasal 81 ayat 2, pasal 103 ayat 2, pasal 104 ayat 3, pasal 105 ayat 1 dengan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp 10 milliar. @red

print
(Visited 36 times, 1 visits today)

Shortlink: