Hakim Bentak Saksi Di Sidangkan Kasus Penipuan

Surabaya, BeritaTKP.Com – Salim Himawan Saputra warga jalan Citandui No 4 Surabaya, dilaporkan Elizabeth Kaverya pada September 2016 karena tidak membeli alat berat excavator merk Komatsu sebesar Rp 500 juta, sesuai letter of intens (LOI) atas nama PT Guna Karya Pembangunan (perusahaan milik terdakwa) dengan China Road Bridge Coorporation (CRBC) dalam pekerjaan jalan tol Solo-Kertosono.

Uang Elizabeth Kaverya sebanyak Rp 500 juta itu dipakai terdakwa Salim Himawan Saputra untuk keperluan pribadi, bukan untuk membeli alat berat excavator seperti yang sudah direncanakan sebelumnya dengan disertai janji akan membagi keuntungan selama 2 tahun.

Namun, uang tersebut ternyata tidak dipakai untuk pembuatan membeli excavator, malah dipakai terdakwa Salim Himawan Saputra untuk keperluan lain diantaranya membiayai operasional pekerjaan jalan Tol Solo-Kertosono.

Kasus ini pun akhirnya dilaporkan Elizabeth ke Polisi. Salim ditetapkan tersangka dan ditahan. Penahanan itupun berlanjut dilakukan jaksa. Namun, Terdakwa Salim kembali menghirup udara bebas. Hakim Dedi Fardiman mengalihkan status tahanan nya menjadi tahanan kota.

Pengalihan status penahanan terdakwa Salim Himawan Saputra ini dirubah oleh ketua majelis hakim Dedi Fardiman setelah melihat rekam medis kesehatan terdakwa, dan istri terdakwa memberikan uang jaminan sebesar Rp 200 juta.

Hingga akhirnya sidang kasus perkara penipuan tersebut dilakukan dalam sidang tersebut Kenetralan Hakim Dedi Fardiman patut dipertanyakan, bagaimana tidak saat sidang berjalan Aksi keberpihakan Hakim Dedi pada terdakwa Salim itu terlihat saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chalidah dan Ginanjar menghadirkan dua orang saksi, yakni Burhanuddin dan Thomas Ardianto.

Baca Juga :  Baanar Sidoarjo Dilantik Untuk Perangi Narkoba

Saksi Burhanuddin yang dihadirkan jaksa ini kerap dimentahkan Hakim Dedi,  bahkan ia dibentak dengan alasan pendengarannya mulai berkurang. Bahkan Hakim Dedi terlihat mengarahkan saksi Burhanuddin untuk mementahkan dakwaan jaksa. “Kalau memberikan kesaksian itu yang benar, bila tahu bilang tahu bila tidak bilang tidak, kalau lupa gak usah diingat ingat,” bentak Dedi Ferdiman kepada saksi.

Nada tinggi hakim Dedi membuat saksi Burhannuddin tidak fokus. Bahkan saksi Burhanuddin kerap lupa dan gagal fokus saat menjawab pertanyaan yang ditanyakan jaksa, padahal sebelumnya, saksi Burhanuddin  sempat lancar menjelaskan kronologis persitiwa perkara ini.

Bahkan saksi berbaju kotak-kotak ini dengan gamblang mengatakan mengenal terdakwa Salim dan pernah disuruh untuk membuat faktur pajak. “Beliau mantan bos saya,”kata saksi Burhanuddin pada Hakim Dedi, tak hanya itu, saksi Burhanuddin menjelaskan, peristiwa penipuan dan penggelapan itu menimpa Elizabeth, rekan bisnis bos saksi Burhanuddin, yakni Leny.

Dalam kasus ini saksi juga mengetahui, jika saksi korban  telah melakukan beberapa kali transfer ke rekening terdakwa untuk pembelian alat berat excavator merk Komatsu sebesar Rp 585 juta. “Saya juga pernah beberapakali ikut mengantar Bu Elizabeth  transfer ke Bank,”sambung saksi.

Dan seusai persidangan, Jaksa Andi Ginanjar mengatakan, keterangan saksi Burhanuddin telah membuktikan bahwa terdakwa Salim telah  melakukaan tindak pidana penipuan dengan mengajak kerjasama korban membeli mesin excavator dalam pembangunan proyek tol Solo-Kertosono. “Sampai saat ini, terdakwa tidak mengembalikan uang yang dipinjam. Korban dijanjikan keuntungan dan mengalami kerugian sebesar Rp 585 juta,”terang jaksa Andi Ginanjar. @red

print
(Visited 15 times, 1 visits today)

Shortlink: