Dalam Pidatonya 3 Menit, Pak Dhe Karwo Terharu Bertemu SBY Dan Dahlan

0
4

Surabaya, BeritaTKP.Com – Dalam Puncak Acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2017 tingkat Jatim sekaligus HUT PWI Jatim ke-71, Soekarwo selaku gubernur jawa timur berkesempatan untuk berdiri di podium dan melakukan pidato di depan seluruh undangan.

Di acara yang turut dihadiri oleh Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang hadir bersama Ny Ani Yudhoyono, Wakil Gubernur Saifullah Yusuf, para kepala daerah, dan pejabat pemerintahan, legislatif, BUMD, swasta, serta tokoh pers dan para wartawan di Jatim, Soekarwo meneteskan air mata.

Dalam acara tersebut gubernur Jawa Timur tersebut meneteskan air mata hingga tak mampu meneruskan pidatonya, dan hanya naik podium tak lebih dari tiga menit bahkan, kertas sambutan yang telah disiapkannya lantas dimasukkan lagi ke kantong celana dan dia turun dari panggung.

“Saya gembeng (menangis, Red), apalagi melihat pak SBY hadir di Surabaya,” ujarnya dan setelah melepas kacamata minusnya dan menyeka mata dengan saputangan yang diambil dari saku kanan celananya, Pakde pun melanjutkan kalimatnya “Gembeng itu bahasa Jawa Pak, artinya ya menangis, saya memang terharu,” lanjut Soekarwo seakan bercakap langsung dengan SBY yang hadir karena menerima penghargaan Anugerah Prapanca Agung dari PWI Jatim dan duduk di hadapannya.

Baca Juga :  Dinas Kominfo Bekali KIM Untuk Tingkatkan Kemampuan Penyebaran Informasi

Setelah ia menangis dan mengeluarkan tak banyak kalimat diatas podium, Pak De pun  mengakhiri pidatonya dengan mengatakan bahwa memang saat itu dirinya tak ingin banyak berkata-kata . “Tak banyak sambutan dari saya, hanya mengucapkan itu saja,” ucapnya yang lantas menutup pidatonya dengan salam dan turun dari panggung.

Dari gaya bahasa dan gaya tubuh Pakde ini membuat para hadirin sempat terkejut sejenak namun, para undangan langsung memberikan tepuk tangan dan setelah turun dari panggung, gubernur kelahiran Madiun ini lantas menghampiri dan menyalami SBY pemandangan itu membuat ratusan undangan yang hadir, termasuk sejumlah kepala daerah, memberikan apresiasi dengan bertepuk tangan panjang sembari berdiri.

Dalam acara ini juga Pakde Karwo memang mendapat penghargaan khusus dari PWI Jatim dan ia juga dinobatkan sebagai kepala daerah paling inovatif, selanjutnya seusai pertemuan, istri dari Nina Soekarwo ini menerangkan perihal dirinya menangis di hadapan SBY ia menjelaskan bahwa tak ada makna apa-apa. Hanya kangen sama Pak Dahlan Iskan, kangen sama Pak SBY mereka sekarang berkumpul di sini semua hanya sebagai wujud syukur saja dalam kesempatan itu juga Pak De bersyukur dan ber terimakasi kepada pers.

Baca Juga :  Reuni Akbar SMPN 25 Surabaya

Sementara itu, SBY dalam sambutannya meminta kepada pers dan media supaya tak terlalu partisan atau berpihak dan hal ini guna tetap menjaga peran pers sebagai salah satu pilar demokrasi yaitu sebagai penegak kebenaran dan keadilan yang mampu mengekspresikan suara rakyat, dan mengontrol kekuasaan serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Dalam sambutanya tersebut presiden indonesi ke-6 tersebut meminta agar kualitas demokrasi semakin baik, maka pemberitaan di media juga harus obyektif dan faktual, bukan hoax dan bad news, harus fair and balance, serta tidak terlalu partisan.

Ia melanjutkan bahwa perjalanan demokrasi di Indonesia cukup panjang dan kaya akan pengalaman. Seperti pernah menerapkan demokrasi parlemen, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila dan era reformasi dan menurutnya, demokrasi yang pas adalah rakyatnya sungguh berbakat, suaranya didengar dan tidak takut agitasi, dan rakyat ikut berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ia menegaskan bahwa demokrasi itu bukan tujuan akhir, tapi bagaimana dengan demokrasi bisa membuat Indonesia makin maju, makin adil, dan sejahtera.

SBY juga mengakui peranan pers dan media tak bisa lepas dari partisan bahkan di negara Amerika Serikat yang demokrasinya dianggap paling tua pun pernah mengalami sangat partisan hanya saja dalam perjalanannya, akhirnya bisa menuju pers yang non-partisan, menurutnya pers dan media di Indonesia juga mengalami ujian dan tantangan yang berat jika belum bisa menjawab tiga pertanyaan yaitu pertama, ada tidak televisi, radio, koran, majalah, media online dan sosial media yang di organisasinya tidak berpihak.

Baca Juga :  Samsat Tandes Rawan Pungli dan Calo

Kedua, ada tidak pengaruh pemilik modal terhadap pemberitaan media dan yang ketiga, ada tidak pengaruh kekuasaan baik kekuasaan politik atau bisnis yang membikin media jauh dari sikap independen. “Kalau tak ada, ya syukur. Tapi kalau iya, maka kita semua punya pekerjaan rumah yang besar untuk mengembalikan marwah dunia pers sebagai pilar demokrasi,” ujar SBY.

Hingga akhirnya dalam acara tersebut sudah mencapai acara Puncak Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2017 tingkat Jatim ini juga diisi dengan pelantikan pengurus PWI Jatim periode 2016-2021 dan pemberian penghargaan PWI Jatim Award kepada para tokoh nasional maupun daerah serta penganugerahan Piala Prapanca kepada insan pers yang berprestasi. @red