Persiapan KEIN Menuju Industri Kreatif Indonesia 2045

0
50

Jakarta Berita TKP-Com Komite Ekonomi & Industri Nasional (KEIN) mempersiapkan roadmap industri kreatif Indonesia hingga tahun 2045. Persiapan tersebut dilakukan setelah Ketua KEIN Soetrisno Bachir diberi instruksi Presiden RI agar peta jalan tersebut segera dibuat.

“Roadmap industri kreatif ini sangat penting karena potensi besar Indonesia. Industri kreatif tumbuh pesat dibarengi dengan bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif bakal sangat besar yang akan melesatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” pungkasnya, Kamis (20/6/2019).

Ketua Pokja Industri Kreatif Irfan Wahid mengatakan, industri kreatif sering disebut sebagai industri masa depan Indonesia. Penyebutan ini tak salah, sebab, industri tersebut berhasil berkontribusi sebesar Rp 1,009 triliun terhadap PDB Indonesia pada tahun 2017 lalu.

“Industri ini telah menyerap angka tenaga kerja sebanyak 17,43 juta tenaga kerja Indonesia, dan masih akan tumbuh pesat lagi. Dengan potensi sebesar ini, kita perlu tahu di mana kita bisa melakukan optimasi. Dimana bottlenecking atau sumbatan yang perlu kita buka agar semakin pesat lagi pertumbuhannya,” kata Irfan Wahid yang akrab dipanggil Ipang Wahid tersebut.

Apalagi, kata Irfan, perilaku konsumen semakin mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif yang beririsan dengan ekonomi digital.

Pada 2016 lalu, misalnya. Sebanyak 63,5 persen pengguna internet bertransaksi melalui online.

Dia mengatakan, dalam rapat tersebut dibagas detail mengenai beberapa aspek yang menjadi tantangan bangsa ini ke depan.

Yakni, sumber daya manusia (SDM), literasi digital, hingga sinergi antara kementerian dan lembaga serta sektor usaha.

“SDM menjadi sangat penting karena kita jelas mulai tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Salah satu yg bisa jadi prioritas misalnya adalah peremajaan SMK berbasis industri kreatif. Kita juga akan bahas tentang pola pikir kreatif melalui interactive learning yang harus ditanamkan sejak dini. Karena ini akan berimbas kepada inovasi,” katanya.

Literasi digital, kata Ipang, tentu tak akan lepas dari beberapa aspek. Mulai dari disrupsi di hampir semua sektor, hingga kemunculan artificial intelligence, bitcoin, cryptocurrency, virtual reality, dan lain-lain.

“Sinergi antar lembaga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, khususnya yang berhubunhan dengan sektor ekonomi kreatif,” katanya.

Sementara, kata Ipang, untuk sektor kewirausahaan harus ditanamkan sejak dini. Misalnya menciptakan usaha berbasis kolaborasi atau sharing economy yang sekarang terus direplikasi sektor-sektor lain setelah sukses di sektor transportasi.

“Kita harus menanamkan paham sharing economy,” tandasnya.(red)