Ibu Di Kediri Tega ‘Uangkan’ Anak Gadisnya

Kediri, BeritaTKP.Com – Perbuatan yang dilakukan oleh seorang ibu di kediri tak patut untuk dicontoh, hanya karena rupiah ia tega menjual anak gadisnya yang masih berusia 16 tahun, sebut saja SR (40) warga Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kota Kediri, yang kini diadukan ke Polresta Kediri atas dugaan kasus eksploitasi terhadap anak.

Sebenarnya penguaduan ini sudah beberapa bulan lamanya berada di Polresta Kediri, namun belum ada perkembangan yang segnifikan, pengadu adalah keluarga dari beberapa orang narapidana yang telah divonis pengadilan dalam kasus pencabulan terhadap Korban AK (16).

Aduan itu disampaikan kurang lebih tujuh bulan lalu. Pengadu membawa sejumlah alat bukti untuk memperkuat aduannya. Mereka meminta supaya kepolisian menerbitkan laporan resmi, tetapi belum dipenuhi. Alasan kepolisian akan ditelaah terlebih dahulu. Karena merasa terlalu lama, akhirnya pengadu berkirim surat ke Komisi Kepolisian Nasional (Komponas).

Akson Nur Huda, SH selaku pengacara pelapor mengungkapkan rasa kekecewaanya terhadap penyidik yang belum bisa mengembangkan laporan kliennya,  “Kami kecewa terhadap penyidik Poresta Kediri. Belum ada perkembangan dari kasus dugaan pembiaran dan penelantaran serta ekploitasi anak yang kami adukan. Katanya belum cukup bukti. Padahal, fakta-fakta dalam persidangan sudah gamblang. Kepolisian bisa mempelajari putusan dari majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri. Kami juga sanggup menghadirkan berapapun saksi diminta penyidik,dan Kami baru saja berkirim surat ke Kompolnas. Dari surat yang kami kirimkan sudah ada jawabannya. Bahwa, Kompolnas akan memonetor dan mengawal kasus itu” ujarnya.

Pengacara tersebut juga menyebutkan tentang fakta-fakta dalam persidangan bahwa AK merupakan korban pencabulan yang dilakukan enam orang pelaku, dimana tiga diantaranya adalah kliennya yaitu, FN (19) warga Desa Nambaan, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, FS (17) warga Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri dan DN (17) warga Desa Kranggan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.

Kasus pencabulan terhadap AK oleh enam pelaku sendiri telah incrah. Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri menjatuhkan vonis hukuman beragam. Seperti FT diputus enam tahun, FS 1 tahun 10 bulan, dan DN 2 tahun 6 bulan. Saat ini, masing-m asing pelaku tengah menjalani masa hukuman di Lembaga Permasyarakatan Kelas 2A Kediri.

Hal ini mengingatkan bahwa Kasus eksploitasi anak yang diduga dilakukan oleh ibu kandung mengingatkan kembali pada kasus pencabulan terhadap sederetan anak di Kediri yang dilakukan oleh pengusaha kontraktor ternama Sony Sandra (SS). Pasalnya, anak yang diduga dijual oleh orang tuanya tersebut juga menjadi salah satu korban SS.

Baca Juga :  Kejati Proses Dugaan Korupsi Pengadaan Buku Dinas Pendidikan Sampang

AK (16) pernah menjalani rehabilitas di Kementerian Sosial Republik Indonesia, setelah kasus SS alias koko bergulir di Pengadilan Negeri. Tetapi dari target masa rehab selama empat bulan, gadis asal Kelurahan Jagalan, Kecamatan Kota Kediri ini dikabarkan baru menjalani setengahnya atau dua bulan saja.

Menurut Akson Nur Huda, SH, \ yang mengadukan SR (40) ibu kandung korban ke Polresta Kediri, sang anak sempat ramai dibicarakan saat kasus Sony Sandra. Sebab AK adalah satu dari sekian korban pencabulan bos aspal di Kediri itu.”Lima bulan sebelum bersetubuh dengan klien kami, AK menjadi korban Sony Sandra. Kasusnya ramai dibicarakan hingga membuat gempar Kediri,” ungkap Akson ditemui di Polresta Kediri, Senin (25/9/2017). Dia baru saja menanyakan perkembangan surat aduan yang dikirimkan tujuh bulan lalu. Sebab, sampai saat ini belum ada perkembangan.

Ia juga menjelaskan AK pulang dari Jakarta, pada 26 September 2016. Dia baru saja menjalani rehabilitasi bersama para korban lainnya. Tetapi, kabar yang diterima pengacaran, korban baru separo menjalani masa rehab dan sehari setelahnya, yakni 27 September 2016 korban sudah membuat janji dengan pria lain. AK dijemput oleh salah satu pelaku yaitu DN (17) asal Desa Kranggan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri di lorong SDN Jagalan 1 Kota Kediri.

Bermula pada 27 September 2016 lalu, saat AK baru saja pulang dari menjalani masa rehabilitasi oleh Kementerian Sosial. Dia dijemput oleh salah seorang pelaku berinisial DN di gang sebelah SDN Jagalan 1 Kota Kediri. “Korban dan pelaku sudah ada komunikasi sebelumnya. Sehingga merekan janjian di lorong jalan itu,” ungkap Akson.

Selanjutnya korban diajak jalan-jalan, setelah itu, korban dibawa ke rumah AD, pelaku lain di Desa Kranggan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri. Kebetulan saat itu, ibu AD sedang sakit dan berada di rumah sakit, sehingga rumah dalam keadaan kosong dan dirumah itulah AK lantas dicabuli secara bergiliran. Perbuatan tak senonoh tersebut berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Korban baru diantar pulang, pada Sabtu 1 Oktober 2016. Kepada orang tuanya kemudian korban bercerita telah dicabuli beramai-ramai oleh para pelaku.

Baca Juga :  Bupati dan Kemenhub Banyuwangi Tanda Tangan Akselerasi Bandara

Tiga hari setelah kepulangannya, 3 Oktober 2016 ibu korban datang ke rumah AD, salah satu pelaku. Dia minta pertanggung jawaban dari perbuatan pelaku. Dalam komunikasi tersebut ada dugaan permintaan kompensasi apabila ingin tak dilaporkan ke polisi. Tetapi setelah ditunggu selama seminggu tidak mendapatkan respon, akhirnya ortu korban melapor ke polisi.

Sesuai keterangan saksi di dalam persidangan menjelaskan ada deal (permintaan kesepakatan) yang ditawarkan. Per kepala tersangka dimintai uang Rp10 juta. Dan Itu muncul di persidangan. Diterangkan oleh saudara Kabul, selaku Ketua RT, Ibu Dewi Anggoro Dewi dan Sri. Bahkan ada saksi yang menerangkan bahwa anak ini liar. Ibunya cenderung tidak mengurus anaknya. Ada pula yang mengatakan ibu ini memaksa anaknya jual diri, karena faktor ekonomi.

“Kami melihat ibunya tidak sungguh-sungguh dalam mencari. Apalagi anak ini masih dalam pemantauan dan memiliki berkebutuhan khusus. Masak anaknya pergi selama satu minggu tidak dicari. Padahal, sehari sebelum pergi baru saja datang dari Jakarta usai menjalani masa rehabilitasi,” beber Akson.

Akson menjelaskan bahwa perbuatan ibu SR memenuhi unsur tindak pidana penelantaran dan eksploitasi anak sebagimana diatur dalam Pasal 76 B jo 761 jo 77B UU 35 Tahun 2014. Pihaknya meminta Polresta Kediri serius menangani masalah ini, sehingga tidak ada lagi kasus ekploitasi terhadap anak.“Sebenarnya AK dan klien kami juga korban karena sama-sama masih dibawah umur . Dan seharusnya ibunya inilah yang harus bertanggung jawab, menempatkan anaknya sendiri sebagai obyek,” ujarnya.

Sementara itu Kasubbag Humas Polresta Kediri AKP Kamsudi mengujarkan Terkait aduan tersebut yang lama belum ada perkembangan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Satuan Reskrim. “Kami harus mengecek terlebih dahulu, sudah seberapa jauh penanganan kasus itu. Saat ini masih kami komunikasikan dengan pihak reskrim,” ungkap AKP Kamsudi. @red

print

Incoming search terms:

  • dusun kranggan desa nambaan ngasem kediri
(Visited 38 times, 1 visits today)

Shortlink: