Pelaku Pemukulan Petugas SPBU di Semarang Minta Maaf-Berikan Pengakuan

Semarang, BeritaTKP.com – Pria yang diduga pelaku pemukulan petugas SPBU di Kota Semarang, Jawa Tengah, telah berhasil diamankan dan meminta maaf secara terbuka saat dihadirkan di Mapolrestabes Semarang. Polisi berencana mempertemukan pelaku dan korban.

Dalam jumpa pers, pelaku berinisial WT (62) warga Tlogosari Kulon mengaku ia datang ke SPBU 4450135 Pedurungan untuk mengisi bahan bakar motornya. Selain itu, dia bermaksud membeli bensin menggunakan botol untuk temannya yang kehabisan bensin.

pelaku berinisial WT (62) warga Tlogosari Kulon mengaku ia datang ke SPBU 4450135 Pedurungan untuk mengisi bahan bakar motornya

“Rencana mau pulang, teman saya kehabisan bensin di depan BLK. Saya berusaha bantu karena motor saya yang hidup. Saya ke dekat Polsek Pedurungan beli minum, isinya saya minum, botolnya saya bawa. Terus ke SPBU di dekat Manunggal Jati itu,” kata WT kepada wartawan, Rabu (23/11/2022).

Saat di SPBU, dia mengisi bensin untuk motornya terlebih dulu, kemudian meminta agar petugas mengisi botol yang dibawanya. Ternyata petugas berinisial HA itu menjelaskan kalau tidak diperbolehkan. Kemudian WT emosi dan memukul korban.

“Saya beli Rp 25 ribu untuk motor saya juga sama botol. Dari SPBU tidak perbolehkan. Saya emosi niat bantu temen kok dipersulit,” ujar WT.

“Setahu saya boleh kalau darurat, kan saya tidak pakai jeriken,” imbuhnya.

Setelah video tersebut viral, dia mengaku menyesal dan meminta maaf kepada warga Kota Semarang dan juga korban.

“Dengan viralnya ini saya minta maaf kepada warga Semarang, maaf terutama pada korban,” ujarnya.

Untuk diketahui, peristiwa itu terjadi hari Selasa (22/11) kemarin sekitar pukul 01.08 WIB. Videonya viral di media sosial kemudian Polsek Pedurungan turun tangan.

Kanit Pidum Satreskrim Polrestabes Semarang, Iptu Andika Oktavian Saputra mengatakan apapun alasannya meski pelaku bermaksud membantu teman, namun pemukulan terjadi. Pihak kepolisian akan melakukan mediasi terlebih dahulu antara korban dan pelaku.

“Apapun alasannya, kejadian kekerasan tidak diperbolehkan. Rencana akan kita mediasikan. Akan pertemukan dengan korban,” kata Andika. (red)