Polisi Beberkan Peran Dari 8 Pelaku Penganiayaan ART Asal Pemalang

Jakarta Selatan, BeritaTKP.com – Delapan tersangka kasus penganiayaan asisten rumah tangga (ART) asal Pemalang, Jawa Tengah, kini harus menerima ganjaran atas perbuatan mereka. Korban disebut sempat dijejali cabai utuh satu kotak. Pasangan suami istri inisial SK (68) dan MK (64) menjadi pelaku utama dalam kasus ini.

8 pelaku penganiayaan ART asal Pemalang

“SK merupakan majikan, perannya membeli borgol dan rantai. Kemdian, istrinya berinisial MK perannya menampar, mencakar, memerintah 4 ART lain untuk borgol dan rantai hingga merendam kaki korban dengan air panas,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Endra Zulpan di Polda Metro Jaya, Rabu (14/12/2022).

Sementara anak dari pasangan suami istri ini, JS (31) berperan untuk memborgol dan memukul korban. Aksi penganiayaan terjadi seja bulan Juli sampai Desember 2022, para ART yang lain juga ikut menganiaya korban.

“Tersanga E (35) yang juga ART perannya memukul dengan besi, menendang, hingga menyuapi korban dengan cabai,” kata Zulpan.

Tiga ART lain berinisial TA (19), IY (38) dan S (48) berperan memukul dan menampar hingga membawa ember berisi air panas. Awalnya aksi penganiayaan ini merupakan perintah majikan namun lama kelamaan ART menjadi inisiatif untuk melakukan penganiayaan terhadap korban.

“Hasil pemeriksaan Subdit Renakta menyebutkan awalnya disuruh. Kemudian jadi inisiatif memukul karena korban tanpa perlawanan seorang diri di tengah banyak orang. Sehingga jadi kebiasaan yang lain dan tidak dibenarkan secara hukum,” katanya.

Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Ratna Quratul Aini mengatakan korban disuapi cabai satu kotak.

“Ada salah satu ART yang menyuapi korban cabai baru diulek, satu kotak makan gitu. Enggak dikasih apa-apa, cabai aja,” kata Ratna.

Atas perbuatannya, para pelaku kini telah dijerat Pasal 333 KUHP dan atau Pasal 170 atau Pasal 315 dan/atau Pasal 44 dan/atau Pasal 45 UU RI No.23 Tahun 2004 tentang KDRT juncto Pasal 55 dan 56 KUHP. Mereka terancam maksimal 10 tahun penjara. (red)