Anaknya Jadi Korban Tembakan Aparat, Bapak di Surabaya Terpaksa Hutang Rp50 Juta Untuk Operasi

Surabaya, BeritaTKP.com – Hari (50), seorang ayah dari pelajar SMK berinisial NR (17) yang menjadi korban penembakan anggota kepolisian di Sukolilo, Kota Surabaya, pada Jum’at (2/12/2022) lalu, mengaku kecewa terhadap pihak kepolisian atas apa yang terjadi kepada anaknya.

NR diketahui mengalami luka tembak pada sisi kiri perutnya. Demi menyelamatkan nyawa anaknya, Hari terpaksa mencari pijaman hingga Rp50 juta.

Warga Surabaya Timur tersebut yang bekerja sehari-hari sebagai sopir tersebut mengaku punya hutang Rp50 juta untuk biaya operasi mengeluarkan peluru dari perut anaknya.

NR saat menjalani perawatan medis di rumah sakit.

Peluru tersebut berasal dari senjata api milik anggota kepolisian yang memukul mundur para oknum perguruan silat saat penyerangan warkop di Keputih lalu. Hingga saat ini, Hari mengaku tidak mendapat bantuan dari kepolisian.

“Tidak ada bantuan dari polisi, anak saya ini sampai tidak ikut ujian kemarin karena masih dirawat intensif di RSUD Dr. Soetomo, saya ini masih bayar Rp1 juta. Kurang Rp49 juta, dan saya berutang untuk menyelamatkan anak saya,” ujar Hari dengan suara bergetar.

Hari lantas bercerita, dia tahu anaknya ditembak saat dihubungi oleh teman NR yang mengantar ke rumah sakit. NR kini dalam perawatan intensif.

Peluru yang bersarang di perut NR awalnya sempat mengenai perut temannya hingga menembus ke belakang. Peluru tersebut lantas mengenai NR.

Saat itu, NR dalam posisi dibonceng temannya yang terkena peluru lebih dulu. Akibatnya, dia mengalami luka selebar 0,8 cm x 1,8 cm di perut sebelah kiri.

“Saya langsung berangkat ke rumah sakit. Di sana lalu sempat ada datang anggota Polsek Sukolilo dengan nada marah menunjukan sebuah video penyerangan dengan senjata tajam,” kata Hari dengan menahan isak tangis.

Selama anaknya dirawat, Hari didatangi dua kali oleh orang tak dikenal. Mereka meminta penandatanganan surat penyataan jika pihak keluarga NR tidak akan melakukan upaya hukum terhadap peristiwa yang menimpa anaknya.

Hari yang sempat goyah sebab memikirkan biaya operasi anaknya menawarkan sebuah kesepakatan terhadap orang tersebut. “Saya nanya, kalau saya tanda tangan apakah biaya operasi akan ditanggung? Namun jawabannya malah disuruh bayar sendiri, ya saya tidak mau. Harus ada yang tanggung jawab atas kejadian yang menimpa anak saya,” ujar Hari.

Kini, Hari hanya bisa pasrah bekerja keras sambil memperjuangkan nasib dan hak hukum untuk anaknya. Ia berharap, anggota kepolisian yang menembak anaknya akan bertanggung jawab. (Din/RED)