Bajingan BBM Solar Ilegal Marak di Nganjuk, Aparat Penegak Hukum Tutup Mata

Nganjuk, BeritaTKP.com – Para penimbun BBM Bersubsidi jenis solar semakin berani menunjukkan eksistensinya dimuka publik tanpa rasa takut pada hukum. Seperti yang dilakukan oleh salah satu oknum sebut saja Zaenal yang merasa dirinya kebal hukum terkait dengan penimbunan solar yang dia lakukan digudang miliknya yang berada di wilayah hukum Polres Nganjuk, tepatnya gudang tersebut berada di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk.

Berdasarkan informasi yang di dapat dari narasumber dan berdasarkan bukti – bukti yang ada, ahkirnya tim investigasi media ini turun lapangan untuk membuktikan serta mengambil dokumentasi foto beserta video ditempat yang telah di informasikan, Minggu (25/12/2022).

Adapun keterangan narasumber saat dikonfirmasi di lapangan berkata bahwa BBM solar bersubsidi yang di taruh di dalam kempu – kempu atau tong berukuran 60 liter dan kempu-kempu sebanyak itu diduga milik oknum yang bernama Zaenal, kemudian BBM jenis solar bersubsidi tersebut dibawa kegudang. Pada saat pengambilan BBM, solar-solar bersubsidi ini diambil oleh mobil penumpang dengan nopol S 7855 J yang sudah di modifikasi dalamnya dan pengambilannya dilakukan secara estafet dari SPBU satu ke SPBU yang lain, karena peraturan prosedur PERTAMINA untuk BBM bio solar untuk setiap SPBU sudah di perketat sesuai dengan aturan pemerintah.

Peraturan yang di terapkan PERTAMINA sesuai arahan pemerintah baik provinsi maupun kabupaten sudah terealisasi secara online, hal ini digunakan untuk mengurangi kecurangan – kecurangan atau pengambilan sesuai batas ketentuan, di dalam pembelian BBM solar bersubsidi agar rakyat kecil bisa menikmati BBM subsidi yang diberikan oleh pemerintah pusat.

Terkait gudang yang di gunakan oleh zaenal untuk menyimpan BBM jenis solar bersubsidi hasil menguras, menurut keterangan dari narasumber gudang tersebut di lapangan dan gudang tersebut yang rencananya gudang tersebut akan dipindahkan alihkan kepada industri untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

Narasumber mengatakan bahwa gudang tersebut bukanlah milik Zaenal tetapi gudang terserbut milik orang lain tapi yang menjalankan adalah Zaenal, dengan adanya keterangan yang detail dari narasumber beserta bukti – bukti yang didapat di lapangan semakin menguatkan bahwa aktivitas yang dijalan oleh Zaenal telah melanggar hukum ada dugaan bahwa Zaenal sudah melakukan persekongkolan jahat dengan aparat kepolisian setempat dan seakan-akan pihak dari Polsek Lengkong, Polres Nganjuk, tutup mata.

Padahal sudah jelas bahwa Zaenal telah melanggar melanggar pasal 55 atau 53 UU Nomor 22 tahun 2001 tentang migas berbunyi, setiap orang yang menggunakan pengangkutan dan/ atau niaga Bahan Bakar Minyak yang disubsidi pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp.60.000.000.000,- (enam pulur milyar rupiah).

Sedangkan pasal 53 menjelaskan bahwa penyimpanan tanpa ijin usaha penyimpanan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda tinggi Rp.30.000.000.000,- (tiga puluh milyar rupiah).(limbat)