Siswi SMP di Probolinggo Diperkosa Pedagang Cilok, Pelaku Tertangkap Berkat Razia HP

Probolinggo, BeritaTKP.com – Seorang pria berinisial NEP (34) harus berurusan dengan polisi usai memperkosa pelajar SMP yang masih berusia 14 tahun. Pelaku yang kesehariannya berjualan cilok tersebut sudah mencabuli korban sebanyak 3 kali, mulai dari bulan Agustus hingga Oktober 2022.

Kapolres Probolinggo Kota AKBP Wadi Sa’bani mengatakan pihaknya mengamankan pelaku saat menerima laporan dari orang tua korban pada pertengahan Desember 2022. Orang tua korban sendiri menerima laporan dari guru sekolah korban.

Pelaku NEP saat sedang dimintai keterangan oleh penyidik.

“Saat itu HP korban terjaring razia di sekolahnya. Saat disita, gurunya mengecek satu-satu HP para siswa. Nah, tiba giliran HP korban, gurunya menemukan pesan WhatsApp yang tidak lazim. Dari situlah gurunya melapor ke orang tua korban,” ujar Wadi, Kamis (29/12/2022).

Hingga pada akhirnya informasi tersebut sampai ke orang tua korban, sang ibu korban kemudian langsung melaporkan temuan tersebut ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Sat Reskrim. Dua hari sesudah membuat laporan, pelaku akhirnya ditangkap pihak berwajib.

Wadi menjelaskan korban kenal dengan pelaku karena pelaku merupakan seorang penjual coliok keliling dan sering sekali mangkal di sekolah korban. Karena menjadi langganan, keduannya saling kenal hingga akhirnya bertukar nomor HP.

“Korban sering curhat kepada pelaku melalui WhatsApp tersebut. Kemudian dari intensitas komunikasi semakin sering tersebut, berlanjut dengan pelaku mengajak korban yang masih di bawah umur ini ke hotel. Di sana, terjadilah persetubuhan,” jelas Wadi.

Akibat dari perbuatannya pelaku terancam dengan Pasal 81 ayat (2) Jo pasal 76D dan pasal 82 ayat (1) Jo. Pasal 76E UU RI Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sebagaimana dirubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Lewat peristiwa ini, Wadi menghimbau dan berpesan kepada semua orang tua untuk mengontrol atau memonitor kegiatan sehari-hari anak supaya tidak terjadi hal-hal serupa yang tak diinginkan. (Din/RED)