Selamatkan Aset Sejarah, Dewan Minta Pembangunan Hotel Platinum di Jl Tunjungan Dihentikan

0
173

Surabaya, BeritaTKP.Com – DPRD Kota Surabaya minta supaya pembangunan Hotel Platinum yang dilakukan di Jalan Tunjungan dihentikan lantaran kawasan jalan tunjungan merupakan kawasan yang penuh dengan cagar budaya yang bernilai sejarah.

Hingga dilakukan rapat dengar pendapat, Rapat tersebut dihadiri Kepala Satpol PP Surabaya Irvan Widyanto, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Surabaya Maulisa Nusyara dan tim cagar budaya serta perwakilan dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang di di Gedung DPRD SUrabaya, Jalan Yos Sudarso.

Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Saifudin Zuhri menjelaskan bahwa pihaknya dan pihak pemilik hotel platinum sementara ini masih menahan diri dalam artian semuanya di hentikan terlebih dahulu.

Rekomendasi penghentian sementara, terkait dengar pendapat selanjutnya dengan para ahli sejarah untuk mendapatkan rekomendasi. “Apakah nanti boleh diubah baik secara fisik maupun tampaknya (bangunan bagian depan) dengan ketinggian,” imbuh Zuhri.

Tim cagar budaya dalam rapat dengar pendapat menjelaskan, jika pembangunan Hotel Platinum sudah mendapat rekomendasi dari pihaknya termasuk rencana 25 lantai, serta titik pembongkaran bangunan yang digunakan sebagai pintu masuk alat berat. “Surat izin pemugaran cagar budaya kita keluarkan 2015. Bahkan sudah kita tentukan titik mana dan berapa lebarnya bangunan yang boleh dibongkar untuk pelaluan alat berat termasuk kenapa kita beri rekomendasi 25 lantai,” ujar tim cagar budaya.

Sedangkan wakil dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang mengatakan keluarnya IMB Hotel Platinum dikeluarkan pada 27 Maret 2017 lalu usai mendapatkan berbagai rekomendasi termasuk dari Disbudpar dan tim cagar budaya. Mendapat penjelasan dari kedua dinas, tidak membuat Saifudin puas. “Ini kan kawasan cagar budaya, apakah dengan desain seperti itu bisa menimbulkan perasaan orang yang melintas disana, perasaannya terwakili? Saya minta dihentikan dulu dan menahan diri semua menunggu hasil rekomendasi dari para ahli sejarah maupun pakar bangunan serta arkeologi,” pungkasnya. @Ston/ded