Tertipu Penjualan Rumah Fiktif Warga Sidoarjo Dilaporkan Polisi

Sidoarjo, BeritaTKP.Com  – 30 orang menjadi korban penipuan dengan kedok penjualan unit perumahan, dan saat ini Satreskrim Polresta Sidoarjo berhasil membongkar kasus penipuan tersebut.

Dalam hal ini Polisi juga berhasil mengamankan satu tersangka, yakni Mongoloi M Sialagan, 39, warga Perumahan Istana Mentari, Desa Cemekalang, Kecamatan Sidoarjo. Tersangka diduga telah menipu sekitar 30 orang dengan cara yang sama, yakni melalui penjualan rumah fiktif.

Pelaku ditangkap pada 21 November 2017 lalu di rumahnya setelah salah satu korban Suyatni melaporkan menjadi korban penipuan, dalam menjalankan aksinya tersangka penipuan tersebut modus yang dilakukan tersangka sangat tersusun dan dijalankanya sangat rapi.

Salah satu modus yang dilakukan oleh tersangka yakni mencetak brosur perumahan dan membuat site plan palsu untuk membuat korbannya percaya pelaku juga merekayasa seluruh perumahan yang ditawarkan. Misalnya, ia membuat PT Suksesindo Putra Mandiri dan menyewa kantor di ruko The Garden, Perumahan Kahuripan Nirwana Village, Desa Jati Sidoarjo selama dua tahun. Di sinilah ia mulai mencetak brosur perumahan di tiga lokasi, yaitu Candi Negoro Sukodono Regency, Lentera Agung, Desa Jambangan, Candi, satu lagi di Taman Dayu, Pasuruan.

Brosur perumahan ini dicetak sendiri dan supaya nampak seperti kantor pemasaran, ia merekrut tiga karyawan selanjutnya tersangka memasarkan perumahan abal-abalnya tersebut melalui jejaring sosial hingga toko online. Karena harga yang ditawarkan lebih murah, banyak orang yang tertarik, dalam kasus ini pelaku menawarkan beberapa tipe pilihan rumah fiktif tersebut dengan harga lebih murah semisal Tipe 38 ia jual seharga Rp 180 juta, padahal tipe ini di pasaran sekitar Rp 250 juta ke atas.

Kasatreskrim Polresta Sidoarjo Kompol Muhammad Harris mengungkapkan bahwa Tersangka ditangkap pada 21 November 2017 lalu di rumahnya setelah salah satu korban Suyatni melaporkan menjadi korban penipuan, Ia membeli rumah tipe 38 di Perumahan Lentera Agung. Korban telah melihat tanah yang hendak dibangun dan percaya. Sebab saat itu ia melihat memang ada pembangunan perumahan, padahal perumahan itu bukan melainkan tersangka melainkan milik pengembang lain.

Korban tersebut merasa percaya hingga akhirnya menyetor uang Rp 5 juta sebagai tanda jadi dan kemudian secara berkala ia menyetor uang Rp 20 juta dan Rp 55 juta namun setelah membayar ini korban meminta tersangka segera melakukan pembangunan unit yang sudah dipilihnya berdasarkan site plan.

Akan perjanjian tersebut Pertama kali dilihat rumah korban belum dibangun padahal tersangka berjanji satu bulan kemudian rumah tersebut akan dibangun, namun tetap saja belum dibangun, merasa tertipu akhirnya korban melaporkan ke polisi.

Hingga akhirnya pelaku berhasil di amankan oleh polisi, “Saat ditangkap tersangka mengakui jika perumahan yang ditawarkannya ke korban abal-abal. Tanah tiga perumahan yang ditawarkan ke pelanggan bukan miliknya. Kantor yang disewanya juga sudah ditutup sejak Juni 2016 lalu setelah berhasil memperdayai hingga 30 orang dan Saat ini masih empat yang melapor. Kami juga masih menjumlah berapa uang yang berhasil dikumpulkan tersangka, tersangka sengaja menipu untuk mengeruk keuntungan. Cara ini didapatnya saat ia bekerja sebagai marketing perumahan, sehingga cara kerjanya rapi dan bisa meyakinkan orang lain.” ungkap Muhammad Haris. @anggit