Diduga Jual Apartemen Fiktif, PT Sipoa Di Laporkan Ke Polda

Surabaya, BeritaTKP.Com  – Sipoa Grup selaku pengembang diduga melakukan penipuan dalam penjualan hunian apartemen dilaporkan oleh 100 orang yang menjadi konsumen dan tergabung dalam paguyuban Pembeli Proyek Sipoa (P2S) mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim Senin siang 18/12/2017.

Tak hanya itu para korban juga membawa spanduk bernada protes kekecewaan karena janji Sipoa tak kunjung terealisasi. Sebelumnya, paguyuban itu sudah melakukan somasi ke Sipoa, tapi hal itu  tidak digubris. Kemudian pihak paguyuban juga sudah melakukan hearing dengan anggota DPRD Jatim. Dalam kasus ini terdapat sekitar 300 korban dengan kerugian total senilai Rp 30 milliar.

Selanjutnya P2S menunjuk kuasa hukum dari Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) Universitas Airlangga (Unair), Dian Purnama. Salah satu UKBH Unair Dian Purnama mengatakan, pihaknya memfasilitasi konsumen yang mayoritas dari kalangan menengah ke bawah supaya mendapat haknya kembali. Karena uang milik korban sudah banyak yang disetor, bahkan sudah ada yang lunas. “Konsumen Sipoa yang tergabung dalam P2S juga berasal dari proyek Royal Mutiara Residence (RMR) 3 dan Royal Afatar World,” ujar dian.

Alasan konsumen tertarik untuk membeli Apartemen Sipoa di kawasan Tambak Oso Waru, Sidoarjo, karena harga yang miring. Harganya per hunian mulai dari Rp 185 sampai 190 juta dan 210 juta. Selain itu, para konsumen tertarik lantaran juga ada kerja sama dengan pemerintah daerah.

Seperti salah satu contoh korban yakni Randi Pradana mengujarkan bahwa dirinya sudah membayar Rp 71 juta. Sesuai kesepakatan awal tahun 2016, sudah ada penyerahan. Namun saat dicek di lokasi tanah masih kosong. “Waktu kami cek, lahannya masih kosong semua. Alasannya perizinan, kalau yang Royal Avatar World (RAW) alasannya SUTET,” ujar Randy di SPKT Polda Jatim.

Hal tersebut juga dijelaskan oleh Wakil Ketua P2S Yulia warga Jalan Klampis Jaya B 3 A mengaku sudah membayar DP dalam jumlah yang lumayan.”Bersama keluarga saya membeli tujuh unit apartemen dengan total harga Rp 900 juta,” ujar Yulia kepada Radar Surabaya. Dari jumlah total itu Yulia baru membayar 30 persennya. Namun hingga Desember 2017, hal itu tidak ada kejelasan. Bahkan beberapa korban dari Sidoarjo juga hanya menerima janji. Ada konsumen yang dijanjikan Juni 2017 terealisasi, tapi hingga kini belum ada pembangunan.

Menurut Yulia 31 Desember itu tinggal dua pekan saja. Pihaknya meyakini pasti Sipoa akan tidak merealisasikan janji itu. ” Ada kesepakatan juga kemarin di pasal 13, jika sampai tanggal 31 Desember 2017, tidak ada kelanjutan maka uang kami akan dikembalikan , Terbaru sudah kami klarifikasi tapi tidak ada kejelasan. Dan terakhir mereka memberikan kami surat uang akan dikembalikan pada tahun 2020,” paparnya. @rzk