Layani Pria Hidung Belang, Tiga PSK Digerebek

0
177

Surabaya, BeritaTKP.Com – Ditutupnya tempat lokalisasi Dolly oleh pemerintah kota surabaya bukan perarti tutup juga praktik human traficking di wilayah tersebut, hal ini dibuktikan dengan hasil penggerebekan yang dilakukan oleh anggota kepolisian.

Polisi menggerebek Wisma New Borneo di Jalan Jarak Gang Dolly, Dukuh Kupang Timur, Surabaya Minggu dinihari (21/1/2018) dan dari hasil penggerebekan tersebut petugas berhasil mengamankan tujuh orang yang terdiri dari 3 PSK, dua mucikari dan dua pria hidung belang, pelaku penggerebekan tersebut antara lain HDY (37),  LK (42), dan (YS)29 Ketiganya merupakan PSK yang biasa melayani tamu di wisma Borneo.

Dan dua pria hidung belang yang diamankan ialah AA (35) serta RB usianya masih terbilang ABG yankni 19 keduanya diamankan saat asyik kencan dengan dua PSK yang ia pesan. Tak hanya itu, dua mucikari juga berhasil diamankan polisi, mereka adalah  Basuki (29) dan Tasipin (39) keduanya masing-masing tinggal di Jalan Kupang Jaya Gang VII dan Jalan Kupang Gunung Timur I, Surabaya.

Penangkapan yang dilakukan oleh petugas berawal saat Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreksrim Polrestabes Surabaya mendapatkan informasi ada praktik prostitusi di Gang Dolly. Kemudian polisi melakukan penyelidikan, hingga akhirnya mengamankan Basuki dan Tasipin yang bekerja sebagai mucikari.

Dari penangkapan dua tersangka tersebut, polisi mendapati jika ada tiga PSK binaan mereka yang sedang melayani tamu di Wisma Borneo. Wisma itu adalah salah satu wisma yang ditutup oleh Pemkot Surabaya pada Juni 2014 lalu.“Dari penggerebekan wisma tersebut, kami mengamankan tiga PSK dan dua lelaki hidung belang,” ungkap Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran.

Dalam hal ini ia juga menjelaskan bahwa modus yang dilakukan oleh mucikari tersebut tidak jauh berbeda dengan mucikari yang sudah ditangkap sebelumnya. Mereka menawarkan PSK kepada setiap pengendara yang lewat di lokasi tersebut, “Biasanya mereka menunggu pada waktu siang hingga malam. Ketika ada pelanggan yang ingin mencari PSK, dia menawarkan beberapa anak buahnya, dengan cara menunjukkan foto,” ungkapnya.

Dan untuk mengelabuhi polisi, para mucikari ini menyaru sebagai tukang parkir atau preman. Ketika ada pelanggan yang berminat, mereka mulai membicarakan tarif. Bisanya tarif untuk sekali kencan, kedua tersengka ini menentukan tarif Rp 250 ribu, dengan rincian Rp 160 ribu untuk PSK, Rp 40 ribu untuk dua mucikari sedangkan Rp 50 ribunya digunakan untuk menyewa kamar. Setelah transaksi selesai, kedua tersangka ini menghubungi korban yang disembunyikan di kawasan Jalan Jarak. Keduanya meminta agar korban bersiap lantaran mendapat tamu.

Selanjutnya lelaki hidung belang diminta masuk ke dalam wisma Borneo hanya saja mereka lewat dari belakang, sebab pintu depan sudah digembok lantaran wisma ini sudah ditutup. Setelah masuk, pelanggan akan dibawa ke bilik-bilik kamar yang sudah dipersiapkan.

Saat diperiksa penyidik, Tasipin mengaku sudah menjalankan aksinya selama tiga tahun, sedangkan Basuki baru setahun. Keduanya mengaku jika pekerjaan sebagai mucikari tersebut dilakukan karena kepepet dengan kebutuhan. Selain itu, selama ini masih ada pelanggan yang sering menjadikan Dolly sebagai jujukan untuk layanan prostitusi. @lutf