Polisi Pertemukan Pelaku Dan Korban Penipuan Rp 900 Juta

Sumenep, BeritaTKP.Com – Terduga pelaku penipuan berkedok jual beli sembako kini muncul setelah menghilang beberapa bulan yakni Nia Ekawati (25), warga Desa Pandian, Jalan Teuku Umar gang III, Kecamatan Kota Sumenep.

Dalam hal ini Aparat Kepolisian pun berinisiatif mempertemukan terduga pelaku dengan puluhan korban di Mapolres setempat Mediasi tersebut difasiltasi Kapolsek Kota Sumenep, AKP Widiarti, Kasat Reskrim Polres Sumenep, AKP Tego, dan Kades Pandian, Budianto, Dalam mediasi itu, para korban bersikukuh agar pelaku segera mengembalikan uang yang telah disetor korban.

Diketahui Jumlah uang yang telah disetor ke pelaku bervariasi. Per orang mencapai Rp 30 juta hingga lebih dari Rp 100 juta. Salah satu korban mengungkapkan bahwa mereka tetap meminta agar uang yang sudah kami setor itu dikembalikan, “Uang yang kami serahkan ke pelaku itu jumlahnya tidak sedikit. Puluhan juta. Bahkan ada yang ratusan juta,” kata salah satu korban penipuan” ujar salah satu korban penipuan.

Dugaan penipuan berkedok jual-beli sembako itu berlangsung sejak bulan Juni 2017. Modusnya, pelaku memberikan ‘iming-iming’ untung besar bagi yang bersedia menitiipkan sejumlah uang sebagai modal ‘kulakan’ sembako berupa beras dan minyak goreng.Sembako yang dijual pelaku harganya jauh di bawah harga pasaran, sehingga apabila si penitip modal akan menjual ke konsumen dengan harga pasaran, akan mendapatkan untung yang cukup menggiurkan.

Salah satu contohnya, harga beras merk ‘Ikan Paus’ yang ditawarkan pelaku seharga Rp 220 ribu per sak 25 kg. Padahal harga beras merk tersebut di pasaran berkisar  Rp 270 per 25 kg. Selisih untung Rp 50 ribu apabila ‘kulakan’ beras pada pelaku cukup ampuh memikat puluhan warga. Mereka tidak segan-segan menitipkan modal puluhan hingga ratusan juta sehingga Bisnis yang tampak menjanjikan itu semula berjalan lancar.

Sembako yang dipesan penitip modal, langsung dikirim sesuai permintaan dan jumlah uang yang dititipkan. Biasanya, warga yang telah merasa menikmati ‘manisnya’ untung besar dari bisnis sembako dengan pelaku, tidak segan-segan untuk kembali menitipkan uang dan dalam jumlah yang lebih besar lagi.

Setelah bisnis itu berjalan beberapa bulan. Warga yang sudah menitipkan uangnya untuk kulakan sembako, tidak lagi mendapatkan barang sesuai yang diorder. Kalaupun mendapatkan barang, jumlahnya jauh dari uang yang dititipkan, Warga yang terlanjur menitipkan uang pada pelaku mulai gelisah, karena pelaku semakin lama semakin sering berkelit dan sulit ditemui. Bahkan pada perkembangan berikutnya, pelaku kabur dari rumahnya dengan membawa uang yang dititipkan warga untuk kulakan sembako.

Menurut informasi total uang puluhan warga yang menjadi ulah bisnis abal-abal pelaku ini mencapai Rp 900 juta lebih, Saat puluhan korban ‘menggeruduk’ rumah pelaku, pelaku sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah. Bahkan suaminya mengaku tidak tahu menahu dengan bisnis yang dijalankan istrnya. “Saya tidak tahu apa-apa dalam persoalan ini. Saat ditanya, istri saya bilang kalau sembako yang dijual itu didapatkan dari Malang,” ungkap suami pelaku, Hadi Sutrisno di hadapan para korban.

Dihadapan aparat kepolisan dan Kepala Desa, perempuan cantik ini berjanji akan membayar uang yang telah disetor dari para korban dengan cara mencicilnya. Bahkan, pelaku mengaku akan bekerja ke luar negeri untuk melunasi uang tersebut. “Saya akan mengganti uang yang sudah disetor ke saya. Bahkan saya akan bekerja keluar negeri sebagai tenaga kerja wanita, untuk membayar uang yamg sudah diserahkan ke saya,” ucap Nia. @sul

Download Apps BeritaTKP di Hp Anda