Demi Biayai Adik Sekolah, Pemuda Bertato Mengaku Lulusan Pesantren Ini Harus Rela Tidur Dipenjara

Surabaya, BeritaTKP.Com – Menjadi pelaku pencurian motor membuat Faisal (18) pemuda asal Jalan Joyoboyo Timur, Surabaya jadi buruan polisi, Faisal ditangkap Tim Anti Bandit Unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya pada Selasa (6/3). Dia ditangkap di Jalan Kedung Cowek saat hendak menjual motor curian ke Madura. Penangkapan itu berdasarkan laporan SH, warga Bumiarjo Surabaya, korban pencurian motor.

Saat tertangkap, Faisal mengaku kapok dan bertobat tak akan mengulangi perbuatanya. Malah dia mengaku sebelum terjun di dunia hitam, dirinya pernah tobat dan mondok, namun bukan mengamalkan ilmunya, pemuda warga Jalan Joyoboyo Timur, Surabaya itu justru menjadi pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor).  Tercatat dalam beberapa bulan terakhir, remaja yang dipenuhi tato di tubuhnya ini sudah beraksi sebanyak enam kali.

Dihadapan polisi, Faisal mencoba menyakinkan polisi jika ia memang lulusan pesantren. Dengan kondisi tangan terborgol ia terdengar fasih melantunkan ayat-ayat suci, “Saya menyesal, setelah keluar penjara saya tak akan mengulangi perbuatan saya ini,” tandasnya dengan wajah menunduk.

Dalam hal ini polisi melakukan penyelidikan hingga berhasil mengidentifikasi pelaku, Faisal, petugas mengamankan tersangka dengan barang bukti berupa satu unit sepeda motor Suzuki Satria FU L 4901 TF. Motor tersebut merupakan hasil curian yang hendak dijual ke Madura.

Dalam menjelankan aksinya, Faisal ini menjadi pelaku solo. Dengan berjalan kaki dan bermodalkan kunci T, dia mencari target motor-motor yang diparkir di depan rumah atau warung. Biasanya, Faisal menyasar motor-motor di daerah Wonokromo, Surabaya.

Tak hanya pelaku, polisi juga menangkap seorang penadah bernama Mistum (20) pemuda asal Desa Camplong, Sampang, Madura. Meski penangkapan Mistum dari hasil pengembangan tersangka Faisal, namun ternyata Mistum memiliki jaringan pemetik lain, dalam hal ini Meski bukan jaringan Faisal, namun Mistum juga kerap membeli motor curian yang menggunakan jembatan Suramadu sebagai tempat transaksi.

Kepada polisi, Faisal mengaku keluar mondok sejak dua tahun lalu. Namun setelah itu, ia hidup di jalanan. Sebelum menjadi pelaku curanmor, ia biasa mengamen. Namun karena dia ingin membantu biaya sekolah adik-adiknya, ia pun nekat menjadi pelaku. “Uangnya selalu saya berikan kepada adik, saya hanya  menikmatinya sedikit,” ungkap Faisal. @haryanto