251 Customer Properti Sipoa Group Tertipu Cek Kosong

0
159

Surabaya, BeritaTKP.Com – Ratusan warga yang tergabung dalam Paguyuban Customer Sipoa (PCS) melaporkan PT Sipoa Legacy Land ke Polda Jatim, Sabtu (10/3/2018) sore, namun dalam hal ini yang melaporkan adalah Perwakilan 251 warga dari berbagai tempat yang tinggal di Surabaya serta Sidoarjo.

Masbuhin kuasa hukum para korban pembelian properti mengungkapkan bahwa Laporan ini tidak penipuan saja, tetapi juga ada dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), tak hanya itu Advokat dan Consultant Hukum dari kantor hukum Masbuhin and Partners (Masbuhin, Firman Wahyudien, Kuswandi dan Muadim Bisri) menyatakan siap mendampingi klien sejak kasus ini bergulir.

Kurang Iebih 251 orang yang tergabung dalam PCS mendukung langkah tersebut, Apalagi para customer selama melakukan pembelian properti, pihak pengembang Sipoa Group telah memberikan lembaran cek untuk pengembalian unit properti yang hingga kini bangunan tak kunjung terealisasi, dan ternyata lembar cek pengembalian uang dari Sipoa kosong.

Dari sini ratusan orang tertipu jadi harus dilaporkan, dalam kasus ini Korban yang melapor kali ini adalah kelompok kedua, tergabung dalam Paguyuban Customer Sipoa.Sebelumnya, pada Desember 2017, sekira seratus korban tergabung dalam Paguyuban Pembeli Proyek Sipoa atau P2S sudah melaporkan Sipoa Group ke Polda Jatim. Belum diketahui pasti tindaklanjut kasus itu.

Masbuhin juga menjelaskan bahwa pengembang yang dilaporkan itu berdiri dalam bendera PT Sipoa Legacy Land, membawahi sebelas perusahaan dengan 18 proyek properti. Properti yang ditawarkan kepada korban berupa hunian murah, seperti Royal Avatar dan Royal Mutiara Residence. Lokasinya di Tambak Oso, Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Dalam hal ini Korban yang ditangani Masbuhin kebanyakan mendaftar ke Sipoa sejak 2015 untuk unit apartemen senilai Rp200 jutaan dan Uang muka Rp15 juta dicicil 30 bulan, begitu pula dengan pembayaran pokoknya juga dicicil langsung ke pengembang, bukan melalui KPR. Sipoa berjanji untuk serah terima unit pada 2019, Korban mulai resah setelah lahan yang dijanjikan sebagai lokasi hunian hingga sekarang masih berupa lahan kosong. Tidak ada tanda-tanda proyek dikerjakan.

Kejanggalan lainnya, jelas Masbuhin, rekening pembayaran cicilan tidak pada satu rekening, tetapi berubah-ubah kurang lebih 22 rekening dan saat pelanggat muntab, Sipoa berjanji mengembalikan uang para customer dan direalisasikan dengan menyerahkan lembaran cek. Ternyata, korban tidak bisa mencairkan cek tersebut alias bodong. @red