Pemkot Surabaya Pastikan Jembatan Kartini yang Ambles Akan Diperbaiki

0
153

Surabaya, BeritaTKP.Com – Kota Surabaya dipercaya sebagai tuan rumah internasional Growing Up Urban Making Cities Safe and Sustainable for every child atau biasa disebut Kota Layak Anak. Acara ini digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama UNICEF dan akan diselenggarakan pada tanggal 6-8 Mei 2018 di Hotel JW Marriot.

Marc Vegara selaku Chief of Communication and Public Advocacy UNICEF menjelaskan inti pertemuan antar wali kota se-Asia pasifik untuk berdiskusi, saling tukar ilmu dan berbagi untuk mencari solusi dari problem-problem yang dialami setiap kota tentang kondisi anak di perkotaan. “Mulai sekarang harus dipikirkan bagaimana perencanaan dan kontrol bagi anak, jika tidak dilakukan akan sangat membahayakan,” jelas Marc di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Selasa (13/3/2018).

Selain itu, Marc menuturkan, pentingnya acara ini untuk segera dibahas karena dirinya kerap melihat dan mendengar permasalahan anak di kota berbagai kota di dunia. Saya mencontohkan kejadian di sebuah kota bernama zero day yang ada di Afrika Selatan. Di sana air telah mati dan meminta kepada rakyatnya untuk mencari air sendiri. “Lalu bagaimana dengan anak-anak, tidak mungkin mereka bisa hidup tanpa air. Itu sangat menakutkan,” imbuhnya.

Kepala Perwakilan UNICEF untuk Wilayah Jawa Arie Rukmantara mengatakan, acara ini akan mempertemukan 11 wali kota dari 8 negara se-Asia pasifik yang dikemas dalam bentuk diskusi untuk membahas visi para wali kota dalam membangun kota layak anak jangka panjang. “Diskusi ini sangat penting karena akan menghasilkan kebijakan yang difokuskan  pada kehidupan anak di masa depan,” kata Arie.

Pemerintah Kota Surabaya sebenarnya sudah berencana memperbaiki Jembatan Kartini yang saat ini diketahui ambles. Bahkan, saat ini sudah ada pemenang lelangnya dan tinggal menunggu proses pembongkaran untuk meremajakan jembatan peninggalan Belanda itu.

Kepala Dinas PU Bina Marga dan Pematusan Kota Surabaya Erna Purnawati memastikan ada beberapa faktor yang menyebabkan Jembatan Kartini itu harus ditutup. Pertama, jembatan yang memiliki lebar 8 meter dengan panjang 10 meter itu sudah diketahui retak sejak tahun 2017, tepatnya ketika Dinas PU Bina Marga dan Pematusan melakukan pengecekan jembatan-jembatan setiap tahunnya.

“Setiap tahun kita memang rutin melakukan pengecekan jembatan-jembatan di Surabaya. Dan pada tahun 2017, kami mengetahui Jembatan Kartini itu ada retaknya, jadi kami tahunya bukan kemarinnya, tapi sudah tahun lalu,” kata Erna ditemui di ruang kerjanya, Senin (12/3/2018).

Setelah diketahui ada retakan, mereka pun langsung melakukan Detail Engineering Design (DED) atau Proyek Perencanaan Fisik untuk memperbaiki jembatan itu. Namun, karena minimnya anggaran, maka pada Bulan Januari 2018, baru bisa dilakukan lelang dan saat ini sudah ada pemenang lelangnya.

“Selain itu, Jembatan Kartini itu memang sudah sangat tua. Usianya sudah sekitar 50 tahun lebih. Kalau dilihat dari bentuk jembatannya, terlihat jelas bahwa pembangunan jembatan itu bersamaan dengan Brandgang yang ada di sampingnya yang merupakan peninggalan Belanda. Jadi, sangat wajar kalau jembatan itu retak,” kata dia.

Alasan lainnya, lanjut dia, saluran di bawah jembatan itu dilewati saluran Dinoyo, dan belum bisa dikeruk, sehingga di bawah jembatan itu masih tetap tinggi. Sedangkan di sisi selatan dan utaranya sudah didalamkan hingga 2 meter, sehingga tidak boleh tidak harus tetap diturunkan.

“Jadi, meskipun jembatan itu tidak ambles, kami memang sudah berencana untuk membongkarnya, karena drainase menghambat, makanya kalau hujan di daerah Kartini selalu ada genangan, itu salah satu penyebabnya,” tegasnya.

Oleh karena itu, Jembatan Kartini itu akan segara dibongkar dalam waktu dekat. Pembongkaran itu memakan waktu sekitar 6 hari, dan selanjutnya akan dikeruk atau didalamkan terlebih dahulu sebelum dilakukan pembangunan jembatan. “Pembangunannya sekitar 6 bulan dan bisa lebih cepat. Semoga bisa lebih cepat,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Irvan Wahyu Drajad mengaku sudah menyiapkan rekayasa arus lalu lintas karena Jembatan Kartini itu ditutup total. Ia pun menghimbau kepada masyarakat untuk menghindari Jembatan Kartini itu dan mencari jalan alternatif lain.

“Jadi, untuk rekayasa arus lalu lintasnya dari arah barat Kartini ditutup dan diarahkan ke Anwari belok kiri WR. Supratman, kemudian belok kiri ke Imam Bonjol ke arah Kartini atau Pandigiling lagi. Sedangkan dari timur diarahkan ke Jalan Imam Bonjol lalu belok kiri Pandegiling,” terang Irvan.

Adapun dari arah timur sebelum Teuku Umar disiapkan papan tambahan ke Kartini lewat WR. Supratman. Kemudian dari Pandegiling sisi barat diarahkan ke timur lewat Jalan Teuku Umar masuk ke arah WR. Soepratman. “Sedang dari utara imam bonjol diarahkan ke WR Supratman lewat Kartini belok kanan ke Teuku Umar arah WR. Supratman,” urainya.

Rencananya, kata Irvan, rekayasa arus lalu lintas dan penutupan Jembatan Kartini itu berlangsung sekitar 6-7 bulan. Hal itu sudah dikoordinasikan dengan Dinas PU Bina Marga yang membutuhkan pembangunan jembatan itu sekitar 6 bulan.

“Dalam pengalihan arus lalu lintas itu, kami bekerjasama dengan Kepolisian, Polsek Tegalsari dan Satlantas Polrestabes Surabaya. Jadi, kami menghimbau kepada pengendara roda dua dan roda empat untuk mencari jalur alternatif lainnya,” pungkasnya. @Hum/red