Perangai Dan Sikap Kades Dianggap Arogan, Warga Druju Minta Penegak Hukum Selidiki Penggunaan ADD

0
199

Malang, BeritaTKP.Com – Sejumlah warga Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang meminta aparat penegak hukum untuk menyelidiki penggunaan alokasi dana desa (ADD) pasca Kades Druju Mujiono, ditangkap oleh Tim Saber Polda Jatim pada Desember 2017 lalu.

Hal ini dijelaskan oleh Kuasa hukum warga Desa Druju, Rachman Sulaiman SH.MH dimana setelah 3 bulan penangkapan tersebut berjalan Kades sudah kembali pulang dan aktif di desa dan hal itu membuat warga kecewa karena perangai dan sikap Kades selama ini, dianggap arogan, Terlebih, warga juga tidak pernah tahu penggunaan alokasi dana desa (ADD) sejumlah miliaran rupiah pada tahun 2015, 2016 dan 2017, tidak jelas peruntukkannya bagi pembangunan di desa.

Dan hal yang paling janggal lagi adalah, pada tahun 2013-2014, warga sudah pernah melaporkan penggunaan ADD namun tidak ada tindak lanjutnya. ADD tahun 2013-2014 bahkan pernah diaudit oleh BPKP. Hanya saja, hasil audit yang sudah turun masih jadi tanda tanya. Sehingga warga Desa penasaran.

“Keluhan warga ini sangat banyak. Dapat ADD tahun 2015, 2016 dan 2017 senilai Rp.1,1 miliar tidak jelas kegunaannya untuk apa saja. Selaku kuasa hukum warga, pihaknya siap mengadukan permasalahan ini ke Polres, Pengadilan dan juga Kejaksaan. Kita dampingi warga sampai tuntas, Bersama warga nanti kita akan minta hasil audit ADD tahun 2013-2014 dari BPKP ke Surabaya,” ujar Rachman Sulaiman.

Rachman Sulaiman juga menjelaskan lantaran warga juga menanyakan dana tersebut Karena seragam hansip di Desa Druju saja, petugas Hansip tidak punya. Kades juga menyewakan tanah kas desa seluas 8 x 400 meter untuk lokasi penambangan batu gamping dan warga mengeluhkan sarana jalan desa justru rusak karena sering dilalui kendaraan berat menuju areal penambangan, “Warga sempat tanya ke Kades soal penambangan itu, tapi jawaban dari Kades mengaku jika warga gak usah ikut campur. Karena dibelakang penambangan itu dibekingi orang kuat yaitu Pak Tito Kapolri. Kami pikir itu tidak mungkin,” imbuhnya. @Canam