Menolak Dipenjara, Tersangka Kasus Korupsi Aset Pemkot Bikin Gaduh

Surabaya, BeritaTKP.Com – Setelah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus dugaan korupsi aset milik Pemkot Surabaya berupa eks Kantor Kelurahan Rangkah di Jl Kenjeran, Surabaya, Soendari,48. Perempuan yang tinggal di Jalan Kenjeran 254 Rangkah, Surabaya ini berteriak lantaran tak mau ditahan, Kegaduhan terjadi di ruang pemeriksaan Pidana Khusus (Pidsus) di lantai lima gedung Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim, Senin (2/4). Kegaduhan tersebut muncul setelah terdengar suara teriakan dari Soendari.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jatim, Richard Marpaung mengatakan, tersangka diduga tanpa hak telah memasuki tanah milik Pemkot Surabaya di Jalan Kenjeran 254, Surabaya yang dulunya dipakai untuk Kantor Kelurahan Rangkah. Tanah dengan luas 537 meter persegi itu dibeli Pemkot pada tahun 1926 berdasarkan Besluit nomor 4276.

“Kemudian pada tahun 1999 Kantor Kelurahan Rangkah dipindahkan di Jl Alun-alun Rangkah nomor 25, Surabaya. Kemudian Pada tahun 2003, tersangka Soendari membuat peta bidang atas tanah di Jalan Kenjeran 254, Surabaya tanpa bukti kepemilikan tanah dan bangunan yang sah,” ungkapnya.

Kemudian lanjut Richard, pada pada tahun 2004 ada proyek pelebaran akses Jalan Kenjeran menuju Jembatan Suramadu, dan lahan itu termasuk lahan yang terkena proyek. Pada lahan tersebut, terdapat warung milik tersangka yang terkena gusur dengan ganti rugi bangunan Rp 116 juta.“Namun tawaran ganti rugi tersebut ditolak oleh tersangka dan ia mengajukan konsinyasi di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Hingga pada tahun 2008 tersangka nekad memasuki lahan itu lagi,” jelasnya.

Belakangan diketahui pada tahun 2014, tersangka malah menjual tanah tersebut seharga Rp 2,1 miliar kepada pembeli yang telah membayar lunas. Padahal tanah dan bangunan aset tersebut telah dibeli pemkot. Akibatnya, karena ulah tersangka negara mengalami kerugian Rp 2,1 miliar. “Tersangka kami tahan, karena bukti-bukti dari penyidik sangatlah cukup dalam kasus ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Soendari diperiksa sejak pukul 09.00 pagi. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, penyidik memutuskan tersangka, namun, saat akan dibawa ke tahanan, Soendari berulah. Dia membuat kegaduhan dari lantai lima hingga di lantai dua gedung Kejati Jatim. Dia menolak ditahan penyidik Kejaksaan. Bahkan tersangka mengaku masih menunggu pengacaranya untuk menjelaskan bahwa dirinya tidak bersalah. Sekitar pukul 14.30, tersangka berhasil dibawa ke dalam mobil tahanan.

Bahkan dalam hal ini Soendari membentak penyidik Pidsus Kejati Jatim yang akan melakukan penahanan, “Tunggu pengacara saya. Saya enggak mau masuk rutan (rumah tahanan). Lihat saja nanti siapa yang menang, kejaksaan apa saya,” bentaknya kepada petugas, namun petugas tak langsung melepaskan tesangka melainkan tetap ditahan.

Sementara itu Adil Pranadjaja selaku pengacara tersangka menyesalkan penahanan yang dilakukan Kejati Jatim. Sebab dalam kasus yang menyeret kliennya ini, Pemkot Surabaya tidak memiliki bukti jika lahan kliennya disebut sebagai aset negara. Sedangkan kliennya diakui Ail mempunyai bukti, sehingga tetap mempertahankan tanahnya.

“Penyidik terlalu terburu-buru, sebab klien kami punya bukti berupa peta bidang tanah tersebut. Kalau tidak ada peta bidang, mana mungkin BPN mengeluarkan sertifikat. Kami akan ajukan gugatan perdata ke Pengadilan,” tegasnya. @yanto