Polisi Tembak Mati Otak Pembobol 4 Kg Emas

Surabaya, BeritaTKP.Com – Bandit spesialis pembobol brankas ditembak mati oleh Unit Resmob Polrestabes Surabaya, pelaku diketahui masuk ke kamar jenasah RSUD Dr.Soetomo sekitar pukul 21.30 WIB hal itu dilakukan lantaran Pelaku melakukan perlawanan saat ditangkap di Terminal Osowilangun. jasad pelaku dibawa tim Resmob Polrestabes Surabaya memasuki halaman kamar jenasah RSUD Dr.Soetomo menggunakan mobil Honda Mobilio hitam pukul 21.30. Saat diturunkan petugas, pelaku sudah dalam keadaan tidak bernyawa.  Lalu jasad pelaku yang juga memiliki tato di tubuhnya itu langsung dibawa masuk ke kamar jenazah untuk proses otopsi.

Pelaku diketahui adalah pimpinan kelompok pembobol brankas bernama Mulyadi, asal Jalan Tanjung Putrayudha IV No.55, Tanjung Rejo, Malang. Dalam beraksi bersama lima anak buahnya dan dikenal sadis saat beraksi. Pelaku spesialis menyasar rumah mewah dan membobol brankas saat ditinggal (rumah pemilik,Red) weeakend.

Pelaku sudah lama menjadi buron dan incaran polisi. Selain menembak mati pimpinan pembobol brankas, polisi juga menangkap 5 orang tersangka anggota komplotan tersebut.  Selain beraksi di Surabya, dan kawasan Jatim, kompoltan ini juga pernah beraksi di Jawah Tengah, sebelumnya Yang empat sudah diamankan di Polrestabes Surabaya, ini (Mulyadi.red) yang terakhir.

Komplotan Mulyadi Sudah Beraksi Delapan Kali, Komplotan pelaku pembobolan rumah kosong, Mulyadi cs memang sudah menjadi target polisi. Sebab komplotan ini sudah beraksi di Surabaya  sebanyak delapan kali. Sasaranya adalah rumah kosong dan menguras harta  benda di dalam rumah tersebut.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan mengungkapakan bahwa Selain menembak mati Mulyadi, tim Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya juga meringkus anak buahnya. Mereka adalah Budi Santoso (52), warga Jalan Kaliputih, Panjang, Ambarawa, Jateng, Siyam,( 43),warga Jalan Gumelem Wetan, Susukan, Banjar dan Daryono, (54), warga Jalan Kebagusan Kecil, Pasar Minggu Jaksel, petugas juga meringkus satu tersangka lain yakni Kiemas Muh Fauzi,41, warga Jalan Ikan Lumba-lumba, Tambakrejo, Waru, Sidoarjo. Tersangka ini merupakan penadah atau orang yang menjual barang hasil curian kelompok Mulyadi.

Dalam hal ini Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran juga menjelaskan saat para tersangka melakukan aksinya dimana Mereka memastikan rumah dalam kondisi kosong, setelah berpura-pura bertamu. Mereka mengetok-ngetok pintu rumah korban, Setelah tak ada jawaban, mereka pun akhirnya menyakini jika rumah tersebut kosong. Segera setelah melihat kondisi itu, mereka beraksi. Empat orang ini berbagi tugas. Ada yang masuk ke rumah korban dan mengawasi di luar rumah. “Biasanya para tersangka masuk dengan cara merusak kunci gembok pagar dan mencongkel jendela atau pintu rumah,” ujar Sudamiran.

Tak hanya modus sebagai tamu, komplotan ini juga menggunakan cara lain untuk memastikan rumah korban kosong. Seperti mereka melempar rumah dengan batu dan juga melihat kondisi lampu di sekitar rumah. Apabila lampu masih menyala, hampir dapat dipastikan penghuni rumah tersebut tak ada di rumah, Kemudian setelah berada di dalam rumah, mereka mencari benda berharga milik korban. Seperti barang elektronik, jam tangan mewah dan juga perhiasan. Bahkan mereka juga membawa brangkas yang ada di rumah para korbannya.

Komplotan ini sudah beraksi sejak 2017 lalu. Setidaknya sudah ada delapan lokasi yang mereka satroni. Tiga diantaranya, ialah di Jalan Darmo Permai Selatan  XIII, Jalan Darmo Permai Utara XII dan Jalan Pakis Argosari  Blok C Nomor 6 Surabaya. Sementara TKP lain ada dikawasan Mulyorejo dan Wonokromo. Mereka selalu menguras semua benda berharga yang ada di rumah korban. Bahkan dari salah satu rumah tersebut, mereka berhasil mencuri empat kilo perhiasan, senilai Rp 2 miliar

Biasanya setelah mendapatkan barang-barang curian tersebut, komplotan ini lantas menyerahkannya kepada Kiemas. Meski bukan penadah sesungguhnya, namun Kiemas adalah orang yang dipercaya oleh komplotan Mulyadi untuk menjualkan hasil curiannya. Dia mendapatkan bagian sepuluh persen dari hasil penjualan barang-barang tersebut dan kini petugas masih mendalami para anggota jaringan ini.

Kanit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya, Iptu Bima Sakti menambahkan komplotan ini terbentuk dari jaringan Jakarta. Mereka  membentuk tim setelah bertemu di penjara. Sebab Mulyadi sendiri tercatat sudah dua kali keluar masuk penjara.  Begitu pula dengan temannya lain. Sebelum beraksi di Surabaya, mereka juga pernah beraksi di sejumlah kota lain. Dan sebelum diringkus, mereka sudah memetakan sejumlah kawasan di Surabaya untuk dijadikan target selanjutnya.

komplotan ini setiap beraksi selalu membawa sajam. Hal itu mereka gunakan untuk melukai korban jika aksi mereka ketahuan. Dengan alasan itu pula akhirnya pihaknya bertindak tegas dengan melumpuhkan dengan tembakan. Selain menembak mati Mulyadi, polisi juga melumpuhkan kaki ketiga anak buahnya. “Semuanya melawan saat hendak kami amankan, andalan mereka adalah sajam,” ujarnya.

Setelah berhasil beraksi, mereka membagi uang hasil penjualan barang curian itu. Kemudian mereka kembali ke Jakarta untuk menikmati hasil kejahatannya. Tempat karaoke dan pesta miras dan wanita tak pernah absen mereka lakukan setelah beraksi. Dari hasil penangkapan komplotan ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti. Yakni dua unit mobil yang mereka gunakan sebagai sarana pencurian, peralatan pembobolan mulai dari palu, gergaji hingga linggis serta sejumlah barang elektronik, seperti laptop, TV, piano dan sejumlah jam tangan mewah. @lutf

Download Apps BeritaTKP di Hp Anda