Kelompok Preman Gajah Oleng Dibekuk Tim Jatanras Polda Jatim

Surabaya, BeritaTKP.Com – Kelompok preman kejam di bawah kepemimpinan Imam Sakram asal Pasuruan yang meresahkan puluhan perusahaan jasa angkut barang di Surabaya akhirnya berhasil dibekuk oleh tim Jatanras Direskrimum Polda Jawa Timur.

Mereka yang tertangkap diantaranya, Imam (41) asal Pasuruan, Bejo (56) asal Jombang, Kopral (47) asal Sidoarjo, BS (47) asal Mojokerto, DWW (36) asal Probolinggo. Sedangkan satu orang yang sudah diketahui identitasnya masih dalam buruan petugas Kepolisian.

Kelompok kejam ini  dibawah kepemimpinan Imam Sakram, ia sempat melarikan diri dengan cara berpindah-pindah dari kota satu ke kota yang lain. Selama seminggu dalam persembunyian, akhirnya petugas berhasil membekuk dengan menembak kaki tersangka karena melawan.

Kelompok ini biasa memalak jatah bulanan ke perusahaan besar dan apabila tidak dipenuhi permintaannya, maka mereka diancam dan diganggu. Rata-rata perusahaan yang menjadi target aksi pemerasan kelompok ini bergerak di bidang jasa angkutan produk rokok, besi, dan sembako.

Tak mau mengambil risiko, beberapa perusahaan sepakat memberi jatah bulanan kepada Imam Sakram dan anggotanya. Setoran rutin dikirim melalui rekening Sakram dengan besaran mulai dari 2 juta hingga 5 juta.

Jika tidak diberikan, anggota Gajah Oleng akan mengganggu angkutan perusahaan itu. Dengan mengambil barang-barangnya, merusak kendaraannya, atau memalak sopirnya 100 ribu hingga 200 ribu.

Diketahui, perusahaan yang merasa dirugikan atas tindak kejahatan sindikat ini jumlahnya puluhan. Namun yang terdata oleh kepolisian masih 15 perusahaan yang ada di Surabaya maupun Yogyakarta.

Tidak ada kejahatan yang sempurna. Tindak kejahatan yang masuk kategori pemerasan disertai kekerasan ini terdengar pihak kepolisian setelah ada laporan empat perusahaan, dua di antaranya PT Indah Logistik dan PT UT (Mobil Crane).

Sejumlah barang bukti berhasil diamankan petugas kepolisian, yakni dua motor, beberapa kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dan beberapa unit telepon genggam.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal berlapis, yakni pasal 368 tentang pemerasan dan pasal 365 tentang kekerasan KUHP dengan ancaman hukuman hingga 12 tahun penjara.@sry/lutf