Aksi Bejat Pelatih Bulutangkis Cabuli Dua Muridnya!

Surabaya, BeritaTKP.Com – Unit PPA Satrerkrim Polrestabes Surabaya menangkap seorang pelaku pencabulan JR (40), warga Kebraon, Karangpilang, Surabaya. Ternyata, pria yang bekerja sebagai pelatih bulutangkis di Karangpilang Surabaya itu telah mencabuli dua muridnya yang masih berusia sembilan dan 10 tahun yang masi menduduki bangku sekolah dasar.

Terkait hal itu, Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya mengatakan, pencabulan itu dilakukan saat pelaku melatih bulutangkis di Lapangan Karang Pilang dan Waru. “Pelaku (Juriyanto) mengakui, sudah lima kali mencabuli muridnya,” tegas Ruth saat press release di Gedung Satreskrim Polrestaabes Surabaya, Jumat (31/8/2018).

Akibat aksinya itu, Yanto pasrah dengan ganjaran yang diterimanya untuk menghuni sel tahanan Satreskrim Polrestabes Surabaya. “Pelaku kami jerat pasal 82 ayat 1 nomor 35 tahun 2018 tentang perlindungan anak dibawah umur dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara,” jelasnya.

Kanit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni menuturkan, pelaku mengaku memang secara spontan melakukan hal itu.

Tanggung jawab yang diemban untuk menjaga, merawat, dan mendidik muridnya justru disalah gunakan oleh JR (40), warga Kebraon, Karangpilang, Surabaya ini. Sebab, pelatih bulu tangkis itu mencabuli dua peserta didiknya sendiri, yakni L (9) dan L (10). Aksi bejatnya, yang menurut pengakuan pria itu telah dilakukan secara spontan itu pada 2017 lalu.

Namun, dimata hukum, hal tersebut jelas-jelas melanggar dan dapat dipidana dengan dugaan pelecehan seksual.Contohnya, aku JR, ia mencabuli muridnya yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) kala itu ketika korbannya sedang duduk, mengambil air di toilet, sampai saat pelaku memintanya berlatih.

Sampai akhirnya korban yang semakin risih atas perbuatannya ia langsung melaporkan kepada orang tuanya terkait aksi bejat yang dilakukan pelaku setiap hari. Ketika itu para korban dari JR mengatakan kepada kedua orang tuanya telah 4 kali dilecehkan oleh JR. Di sisi lain, JR yang kala itu mengaku tak ada niatan rencana untuk melakukan hal itu.

Sebab, berdasarkan pengakuan JR saat penyidikan, ia tak menyangka aksi yang dilakukannya secara spontan justru berujung bui. Terlebih, JR juga harus menahan malu kepada orangtua korban. Sampai akhirnya kedua korban dari aksi bejat JR memutuskan saling melaporkan hal yang dialaminya kepada kedua orangtuanya usai saling bertukar pikiran terhadap pengalaman pahit mereka. Sebab, kedua korban Yanto adalah sahabat di dalam maupun diluar lapangan. Usai mendapat laporan itu, kedua orangtua korban langsung melaporkan hal itu ke Polrestabes Surabaya.            @/ay