Polsek Curug Lecehkan Profesi Wartawan dan Advokad

0
100

Tangerang Berita TKP-Com Viral di Media Online terkait pernyataan Oknum Polisi Polsek Curug Tangerang Selatan yang oleh kalangan Jurnalis dan Advokad dinilai melecehkan Profesi,  bahwa diketahui banyak orang dikatakan adalalah juga mitra kerja dari Kepolisian sendiri.Dimana seperti diketahui bersama Oknum Polisi tersebut dihadapan sejumlah wartawan mengeluarkan pernyataan,“Kamu bawa beberapa pengacara dan ribuan wartawan kemari, saya tidak takut… Pengacara dan wartawan yang datang kemari tadi maahhh kecil..” dikatakan oknum polisi polsek curug bang ke saya tadi. kata US saat mengadu.

Hal ini bermula dari ditahannya US oleh Polsek Curug sudah lebih dari 1X24 jam pada hari Jumat jelang tengah malam, (16/11/2018) tanpa ada status hukum yang jelas.Pernyataan sang Oknum tersebut  tak pelak mengundang reaksi keras dari beberapa Advokad dan organisasi kewartawanan,Sekber Wartawan Tangerang Raya Kamis (22/11) menggelar konfrensi Perss di kantor Biro Kabar Today Group, di kawasan Pasar Baru Tangerang Banten.

Jalintar P. Simbolon, SH. Penasehat Hukum US yang hadir pada konfrensi Perss tersebut mengatakan, meski pada hari Sabtu (17/11/2017), pihak Polsek sudah mengklarifikasi melalui 2 media lokal, yakni Banten cyber dan bantenlink. “Klarifikasi Polsek tersebut dibantah Jalintar Simbolon, SH.“ Oknum Polisi Polsek Curug, boleh saya sebut nama, Ia Aritonang mengusir saya keluar dari ruangan penyidik saat saya akan membela Hak Hak Hukum Klien saya (US) yang ditahan di Polsek tersebut lebih dari 1X24 jam tanpa status hukum yang jelas.” ungkap Jalintar.

Dipaparkan Jalintar, ketika ia meminta Penyidik untuk memperlihatkan satu surat apapun yang bisa menahan kliennya, penyidik tidak bisa memperlihatkannya. Bahkan, penyidik mengelak bahwa US bukan ditahan tetapi untuk proses mediasi dengan Pelapor.“Logikanya, tak ada surat apapun dari Polsek Curug  yang diperlihatkan ke saya saat itu, artinya, polisi telah melakukan pelanggaran dan kesewenang-wenangannya, ini Negara Hukum dan harus jelas dulu status hukum seseorang jika ingin melakukan penahanan.” tegas Jalintar. “kasus ini disebut Penyidik dugaan perkara 284. Terangnya.

Di tempat yang sama, Jumadi (Paman US-red) menjelaskan US dijemput dirumahnya oleh Oknum yang kemudian diketahui bukan Polisi,  dan tidak adanya Surat Panggilan dari Polsek Curug, tetapi US dijemput oleh AD yang mengaku ngaku sebagai Penerima Kuasa dari LA (wanita). “Saya kaget ketika US menelpon saya bahwa ada 3 orang tak dikenal mau menjemputnya dan hendak dibawa ke Polsek Curug untuk menyelesaikan permasalahan hukum.” jelasnya.

Dijelaskan Jumadi, pihak US tidak pernah meminta mediasi, akan tetapi pihak AD memaksa US untuk hadir ke Polsek Curug karena sudah ditunggu para penyidik, jika tidak dihadirkan US, maka keponakan Jumadi akan dijadikan DPO, kata penyidik Polsek Curug kepada Jumadi dan beberapa orang yang mendengarnya di samping Alfa Mart pertigaan lampu merah Bitung. “Hampir semua klarifikasi Polsek Curug itu tidak benar.” pungkasnya.Andar Nabonngal Situmorang, SH. MH, Pengacara lulusan terbaik Ujian Peradi tahun 1994 dan juga sebagai Direktur Eksecutif Lembaga Swadaya Masyarakat Goverment Againts Coruption & Discrimination  saat kami hubungi melalui chat di WA-nya mengecam keras pernyataan Oknum Polisi Aritonang tersebut, dikatakan Andar Pengacara juga Penegak Hukum, “Laporkan langsung ke Propam”, serunya.

Berikut Organisasi wartawan yang hadir pada saaat Konprensi Pers tersebut, dengan pernyataan sikapnya, Mustofa Hadi Karya yang akrab dipanggil Opan sebagai Ketua Setnas Forum Pers Independen Indonesia, Opan menduga adanya skenario dalam runtutan kasus ini. Didepan tim wartawan yang sedang jalankan investigasinya, melalui Aritonang Kepala Tim atau Panit 2 Polsek Curug, pelapor meminta Rp. 30 juta dan hal itu disampaikan Aritonang ke pihak US.Mediasi berlanjut sekitar pukul 03.00 wib dini hari yang dihadiri Wulan (perwakilan keluarga US, Efendi (perwakilan dari LA), AD (pelapor) dan satu orang kuasa pelapor. Mediasi tak terjadi kesepakatan karena pelapor meminta Rp. 150 juta ke pihak US. papar Opan.

Budi Wahyudin selaku Sekjen Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) dalam konferensi persnya mengecam keras tindakan semena mena oknum polisi Polsek Curug. Kami akan suratkan hal ini ke Kapolri dan Propam Mabes Polri untuk segera ditindaklanjuti, bahwa bentuk apapun dan oleh siapapun ucapan pelecehan profesi kami, maka itu sudah sangat jelas menginjak injak harga diri kami sebagai wartawan.” kecam Budi.Hal senada juga di sampaikan oleh ketua Umum organisasi kewartawanan KO-WAPPI melalui komunikasinya, bahwa KO-WAPPI meminta Kapolri untuk segera menindak tegas para oknum anggotanya yang telah melecehkan profesi wartawan.

Masih di tempat yang sama  Usman yang mewakili Maripin Monthe selaku ketua Umum Asosiasi Kabar Online Indonesia (AKRINDO), dalam pernyataan resminya, Usman meminta para oknum Polisi Polsek Curug tidak pantas melecehkan profesi wartawan seperti itu.“Kalau memang yang dikatakan oknum Polisi Polsek Curug itu demikian, maka kami akan datangi Polsek Curug bersama para advokad dan ribuan wartawan. Katanya kan dia gak takut.” tegas Usman. (Red)