Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim.Tangkap pelaku Ucaran Kebencian Di Medsos Fecebook

0
132
Foto AKBP Cecep Susatya Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim, Minggu (19/5/2019), saat merelease Tersangka ujaran

Surabaya Berita TKP-Com Seorang guru honorer di Kabupaten Sumenep, Madura, diamankan polisi, karena telah memosting ujaran kebencian di akun facebooknya. Hairul Anwar (35) ditangkap pada Sabtu (18/5/2019) kemarin, di SDN Prenduan II Sumenep, tempat tersangka mengajar.

Kombes Pol Frans Barung Mangera selaku Kabid Humas Polda Jawa Timur menyampaikan bahwa tersangka dalam hal ini Hairil Anwar yang berprofesi sebagai guru honorer telah memposting di konten berisi ujaran kebencian.

Barang bukti yang di lakukan pelaku penyebaran kebencian di medsos Fecebook

“Hairi melakukan ujaran kebencian terhadap Joko Widodo Presiden RI, Menkopolhukam, dan beberapa tokoh lainnya. Konten bermuatan SARA dan penghinaan terhadap pejabat negara atau penguasa menggunakan media sosial akun facebook atas nama PUTRA KURNIAWAN,” ujar Kabid Humas Polda Jatim ini.

Pria asal Pamekasan ini melakukan ujaran kebencian bahkan tersangka juga menantang instansi kepolisian untuk mencari keberadaannya dan melakukan penangkapan.

“Dia pakai fake account dengan nama Putra Kurniawan. Tapi nama aslinya Hairul Anwar. Dia menghina Presiden RI, ujaran kebencian kepada beberapa tokoh, dan berita bohong. Dia juga sempat melontarkan kata bunuh, Dia juga pernah memposting, mana ini polisi yang mau menangkap saya. Akhirnya berhasil kami temukan keberadaannya dan harapannya dia tertangkap, tercapai juga” Kata AKBP Cecep Susatya Kasubdit V Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jatim, Minggu (19/5/2019).

Cecep menambahkan, sampai saat ini polisi masih menyelidiki kasus ini. Sebab, tersangka tidak hanya mengunggah postingan satu kali saja. Melainkan postingan ujaran kebencian ini juga sempat dilakukannya sebelum pelaksanaan Pemilu 2019.

“Postingannya beragam, ada yang 9 Mei, 22 Maret, dan masih banyak lagi. Ada beberapa postingan yang masih kita dalami,” kata dia.

Sementara tersangka, di hadapan polisi mengaku melakukan hal itu karena ikut-ikutan saja menanggapi kondisi politik yang dinilainya cukup memanas. Dia mengaku menyesal dan pasrah untuk proses hukum yang akan menjeratnya akibat perbuatannya itu.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 28 Ayat 2 Jo Pasal 45 A Ayat 2 UU ITE dan Pasal 207 KUHP. Dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda Rp1 miliar. (Red)