Maraknya Perceraian di Surabaya Difaktori Kemiskinan Ekonomi

0
68

Surabaya Berita TKP-Com Jumlah kasus perceraian di Pengadilan Agama Surabaya masih dipertimbangkan oleh faktor ekonomi alias kemiskinan dan ketidakharmonisan rumah tangga.

Data yang diperoleh oleh beritajatim.com, ditampilkan 2,740 kasus perceraian yang diselesaikan Pengadilan Agama Surabaya dalam kurun waktu 6 bulan terakhir. Naasnya, 65 persen dari total kasus tersebut, ditolak oleh faktor ekonomi 968 kasus dan juga faktor ketidak harmonisan dalam rumah tangga 787 kasus.

Menurut Drs. Agus Suntono, MHI, Kabag Humas Pengadilan Agama Surabaya, pengajuan gugatan rata-rata yang diminta oleh masyarakat yang kelas ekonominya rendah.

“Di kasawan elit itu ada, tapi tidak banyak. Makanya rata-rata yang datang ke sini ya yang tingkat ekonominya rendah, ”ungkap Suntono, Rabu (10/07/2019)

Suntono menuturkan ada banyak faktor terbaik yang bisa memperkokoh rumah tangga. Dua diuntungkan adalah kelayakan hidup (ekonomi) dan moral agama yang kuat.

“Sebenarnya faktor terbaik tentang kekokohan rumah tangga ada banyak. Satu, kelayakan kehidupan, yang kedua, masalah moralitas, ” ucapnya.

Suntono juga menambahkan, untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis, tidak hanya dari diri sendiri saja, tersedia juga pemerintah.

“Itu tidak bisa kita ibaratnya. Dapat memperbaiki sendiri itu tidak bisa.” Harus semua elemen itu ada. Mulai dari pemerintah kota misalnya, alim ulama, agama kementrian yang didalamnya juga pengadilan agama, ” tuturnya.(red)