Modernisasi Dimulai Dengan Pajak Untuk Pria Yang Berjenggot

0
39

Berita-TKP.Com Para pria dianjurkan tidak berjenggot. Bagi yang bersikeras tetap berjenggot, mereka dikenakan pajak, sesuai dengan status sosial dan profesi.

Jika mereka pengusaha dan pedagang, besarnya pajak 100 rubles setahun. Jika mereka pegawai pemerintah, pajak untuk tetap berjenggot sebesar 60 rubles setahun. Jika mereka bukan keduanya, dan tinggal di kota, pajak berjenggot 30 rubles per tahun. Namun jika mereka penduduk desa, hanya dikenakan denda sebesar dua setengah koveks setiap kali mereka ke kota.

Yang sudah membayar pajak berjanggut diberikan sebuah token. Kemanapun pergi, token lunas pajak berjanggut itu dibawa. Polisi dikerahkan untuk memeriksa dan menindak.

Ini suasana di Rusia di bawah kekuasaan Peter The Great, di abad ke 17. Di era itu, jenggot menjadi simbol paling nyata dari orientasi hidup yang ortodoks, tidak modern, dipenuhi oleh tata nilai nilai tradisi yang tak sejalan dengan sikap hidup pembangunan.

Sang raja, Peter The Great terobsesi menjadikan Rusia negara terbesar di dunia. Pilihan sudah ditetapkan. Ialah modernisasi segala bidang. Bagi Peter, itu artinya westernisasi membawa Rusia ke jalan peradaban barat.

Peter sengaja menghabiskan waktu belajar ke dunia barat. Ia menyamar tidak sebagai raja. Betapa ia tercengang. Budaya Barat lebih maju dan lebih superior.

Pulang dari Barat, ia bertekad membaratkan kuktur dan segala dimensi Rusia secara sistematis, dan massif. Mulai dari soal administrasi pemerintahan, perdagangan, dunia sosial, bahkan cara berpakaian dan penampakan fisik ia perhatikan.

Hasilnya? Rusia memang tumbuh menjadi negara terbesar di era itu. Peter pun oleh zamannya, dan sejarahwan diberi label “the Great,” besar, akbar! Jadilah ia Peter The Great.

Patung itu kini menjadi patung tertinggi dunia kedelapan. Ia setinggi 98 meter. Berat total patung itu diduga 1000 ton. Unsur besinya saja seberat 600 ton. Patung itu berdiri tahun 1997.

Tapi kini komunisme hanya membawa kebangkrutan. Reformasi di Rusia kembali pada titik semula, mengikuti pedoman Peter The Great. Yaitu membuat Rusia kembali pada peradaban barat.

Sayapun mengunjungi kota terbesar kedua di Rusia Petersburgh. Ini kota bahkan memakai nama Peter the Great menjadi nama kota.

Ini sungguh kota budaya. Berdiri 4000 bangunan yang bernilai sejarah, jejak dari era Peter the Great, bahkan era sebelumnya. Kota ini memiliki 221 museum. Juga ada 2000 perpustakaan, 80 gedung teater, dan 45 gedung bioskop.

Ia dianggap museum seni terbesar di dunia, hanya kalah dari Luvre di Paris. Berjam- jam saya menghabiskan waktu di sana. Ada 120 ruang hanya untuk melihat koleksi luksan, patung dan artifak seni dunia barat.

Peter the Great melakukan reformasi budaya yang sulit untuk dibalik. Ketika sudah menjadi raja, ia datang ke Eropa untuk belajar. Agar tak terganggu suasana belajar, ia menyamar, menggunakan nama lain.

Bahkan ketika di Belanda, Ia menjadi tukang kayu di usaha pelayaran. Itu ia lakukan karena ingin tahu bagaimana membangun pasukan maritim di Rusia kelak. Ia ingin belajar bahkan dari level pegawai kelas bawah.

Uniknya momen itu. Raja menjadi tukang kayu karena ingin belajar. Sebuah patung pun didirikan mengabadikan momen ketika Peter the Great menyamar bekerja sebagai tukang kayu.

Ia terbelalak melihat pemerintahan dan budaya di Perancis. Ia juga mengunjungi Denmark dan Jerman Utara. Ia ke Eropa tahun  1697-1698. Kembali ia berkunjung ke sana, di tahun 1716-1717. Di antara dua era itu, Peter datang pula ke Eropa, kapanpun ia ingin mempelajari peradaban barat lebih jauh.

Reformasi besar besaran ia lakukan. Rusia harus menjadi negara besar. Rusia perlu diubah seperti tata nilai peradaban barat.

Peter mewajibkan sekolah bagi anak- anak. Mereka harus mengetahui ilmu pengetahuan, minimal aljabar dan geometri. Mereka perlu ditest agar pasti ilmu pengetahuan itu diserap.

Pemerintahan ia tata. Wilayah kerajaan, ia ubah bertingkat menjadi seperti provinsi dengan seorang gubernur yang memimpin penuh. Birokrasi ia buat berdasarkan merit system. Ada jenjang bertingkat dalam birokrasi, dengan otoritas dan kewenangan bertingkat pula. Setiap jabatan memerlukan kualifikasi tertentu.

Perdagagan ia dorong. Sistem pajak yang rumit, ia sederhanakan. Para pedagang di Rusia dan kerajaan sendiri harus dimudahkan membangun kesejahteraan. Sistem kalender ia ubah mengikuti kalender di Barat. Awal tahun dimulai tanggal 1 Januari.

Tak lupa, Peter the Great memperluas teritori Rusia. Kerajaan harus memiliki akses langsung ke laut, untuk membangun pasukan maritim terbesar dunia. Siapapun yang menghalangi, ia taklukan dengan perang.

Rusia harus menjadi seperti peradaban barat. Bahkan itu sudah terlihat dari penampakan fisik para elit dan penduduk. Tak hanya dari pakaiannya, bahkan untuk pria juga dari wajahnya.

Sangat detail Peter mengatur itu. Soal jenggot pun ia urus. Itulah konteks sosial dan ambisi dibalik lahirnya pajak bagi lelaki yang bejenggot.

Legacy Peter The Great yang gandrung pada peradaban barat sempat dipatahkan oleh Lenin dan rezim komunisme. Lenin sempat membawa Rusia, yang meluas menjadi Uni Sovyet, ke arah yang berbeda. Tapi kini komunisme sudah tumbang.

Kini Putin datang. Ia menjadi penguasa terkuat Rusia pasca tumbangnya Komunisme.

Putin merasa dirimya menjadi reinkarnase Peter The Great untuk dunia digital. Dalam satu kesempatan, Putin  menyatakan pandangannya soal siapakah pahlawan Rusia. Ia tidak menyebut Lenin, pendiri komunisme Rusia. Ia menyebut Peter the Great.

Di kantornya, lukisan besar Peter The Great terpampang. Putin menyatakan pula bahwa ia mengidolakan presiden Amerika Franklin D Roosevelt yang berhasil membangun kembali negara di era Great Depression tahun tiga puluhan. Roosevelt adalah ikon peradaban barat untuk pemerintahan.

Sebagimana Peter The Great, Putin kembali ingin membawa Rusia sebagai bagian paling maju dari peradaban barat. Namun sejauh ini, baru sebagain dari peradaban barat yang ia serap: soal industri, ilmu pengetahuan, perdagagan bebas dan birokrasi modern. Namun sisi lain peradaban barat belum ia terapkan penuh: demokrasi dan prinsip hak asasi manusia.

Lama saya terdiam mengenang tokoh yang begitu terobsesi membaratkan negaranya: Peter the Great. Soal jenggotpun , ia atur.

Namun kini di dunia barat, bahkan banyak tokoh dan pemikir berpengaruh juga berjenggot. Dan tak ada pajak khusus untuk pria yang berjenggot.(red)