Nasib Nelayan ‘Ambyar’ Usai Bocor Minyak Menggelegar

0
106

Karawang Berita-TKP.Com Petaka bagi warga nelayan masih berlanjut buntut tumpahan minyak Pertamina di perairan Karawang, 12 Juli silam. Hasil tangkapan ikan turun, dapur rumah tak ngebul.

Warga perdesaan di pesisir Karawang, Jawa Barat tak bisa lagi mengonsumsi ikan. Ikan sisa tangkapan yang sedikit, ternyata bau minyak. Tempe-tahu jadi alternatif. Itu pun harganya mencekik. 

“Kalau nelayan sekarang [makan] tempe sama telur,”ujar Usman (52) saat ditemui sedang beristirahat di Pantai Pelangi, Desa Sungai Buntu, Selasa (20/8/2019).

Usman mengaku tidak tahu lagi harus makan apa. Ia juga merasa keberatan karena harus merogoh kocek lebih dalam demi mengganti ikan gratis menjadi telur-tempe yang mesti ia beli.

“Ya lebih mahal (telur-tempe). Kalau dapat ikan sendiri mah enggak beli,” ujarnya. Ketika makan ikan, Usman hanya perlu mengeluarkan biaya untuk membeli beras dan bumbu.

Usman tidak seorang sendiri didera petaka limbah dari pengeboran minyak Pertamina. Para pedagang ikan laut pun juga harus menyiasati apa yang mereka jual.

Dyah (40) misalnya, ia biasa menjual ikan bakar di pinggiran Pantai Pelangi, Karawang. Ikan yang ia jual merupakan ikan laut. Namun kini, ikan tercemar tak mungkin lagi dikonsumsi masyarakat. Ia pun mencari alternatif lain.

“Ya paling sekarang mah ikan dari empang doang, ikan bandeng, kayak udang, bukan ikan laut,” ucap Dyah yang sedang melayani tamu-tamu pejabat kelurahan. 

Dyah mengaku pendapatannya juga menurun drastis hingga tidak ada sama sekali. Padahal, dia mengaku pendapatan dagang ikan cukup untuk menghidupi keluarganya.

“Kalau sekarang Sabtu, Minggu menggak bisa diandelkan,” kata Dyah.

Dyah mengaku sejak kebocoran minyak PT Pertamina, ikan-ikan jadi bau limbah. Akibatnya pengunjung enggan mengonsumsi. Penghasilan sekarang, kata dia, paling banyak hanya Rp200-500 ribu sehari. terjun bebas dari 10 kali lipat sebelum petaka datang. 

Kebocoran sumur Pertamina juga membuat delapan pantai di Karawang ditutup sejak pertengahan Juli lalu. Meski sama-sama tercemar, kondisinya berbeda-beda. Pantai di sepanjang desa Sungai Buntu hingga Sedari terpantau paling terdampak karena gumpalan minyak. Hal ini karena angin dari Timur ke Barat kerap menyapu limbah dari sumber kebocoran ke dua pantai tersebut. 

Sementara itu, pasir pantai Pusakajaya Utara tidak terlalu kotor, tapi dengan kondisi perairan yang lebih parah.

Pertamina sendiri menargetkan penanganan tumpahan minyak akan selesai pada pertengahan Oktober mendatang. 

Salah satu yang membuat penanganan ini memakan waktu lama – nyaris tiga bulan-adalah kesulitan untuk menutup sumber kebocoran.

Cara yang diambil Pertamina adalah melalui pengeboran miring sumur terarah (relief well) yang berfungsi menutup sumur yang bocor. Metode ini dianggap sebagai solusi yang terbaik setelah upaya pengendalian kebocoran dari sumur eksisting gagal dilakukan.

“Sumur eksisting yang sedang bermasalah ini (YYA-1) akan dimatikan dengan cara membuat lubang baru dari jarak aman untuk sampai ke titik yang akan di-intercept (sumbat),” ucap Vice President Relations PHE Ifky Sukarya.

Selain mengatasi kebocoran, Pertamina juga menyatakan akan memberikan ganti rugi kepada warga terdampak yang nantinya akan diverifikasi.

Ifki menyatakan Pertamina masih fokus pada upaya penanganan kebocoran dan warga yang terdampak sehingga belum bisa menyebutkan total kerugian akibat insiden tumpahan minyak tersebut. 

“Kami masih fokus pada upaya penanggulangan dan upaya mematikan sumur (YYA-1),” pungkasnya.(red)