Puluhan ribu buruh rokok terancam kena pemutusan hubungan kerja (PHK)

0
64

Yogjakarta Beria-TKP.com Menyusul adanya usulan kenaikan batasan produksi Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan 2 dari 2 miliar menjadi 3 miliar batang yang diajukan oleh sebuah pabrik besar dunia yang beromset triliunan.

Usulan kebijakan ini, dinilai hanya akan menguntungkan pabrikan besar asing tersebut. Yang pada akhirnya bakal menyengsarakan ratusan pabrikan kecil dan lokal serta puluhan ribu pelinting yang seharusnya mendapatkan perlindungan dari pemerintah.

Berkaitan dengan itu, maka Mitra Produksi Sigaret Indonesia (MPSI) menolak usulan tersebut. Sebab, menurut Joko Wahyudi, Ketua MPSI, usulan kenaikan batasan produk SKT golongan 2 ini akan menyebabkan sekitar 11 ribu pelinting yang bekerja di pabrikan SKT golongan 1 kehilangan pekerjaan. Bahkan tidak hanya itu, negara juga berpotensi kehilangan penerimaan cukai sekitar Rp 1 triliun.

Oleh karena itu, para pemilik pabrikan kecil dari wilayah Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan tegas menolak usulan kenaikan batas produksi SKT golongan 2. ”Dengan tegas kami menolak usulan kenaikan batas produksi SKT golongan 2,” kata Ketua Paguyuban MPSI, Jokon Wahudi dalam diskusi Batasan Produksi SKT Golongan 2 Naik di Balairaos, Kompleks Keraton Yogyakarta, kemarin.

Bagaimana mungkin sebuah pabrikkan yang memiliki modal besar dan merupakan salah satu pabrikan besar dunia ingin menaikan batasan produksi sigaret kretek tangan golongan 2 yang tarif cukainya lebih murah? ”Ini jelas-jelas menguntungkan satu pabrikan besar asing saja, dan merugikan pihak lainnya,” jelas Joko.

Berdasarkan informasi yang diterima Joko, saat ini pabrikan SKT berskala besar dan asing tersebut memiliki volume produksi 1,8 miliar batang atau berada di SKT golongan 2 dengan tarif cukainya To 180 per batang. Diperkirakan pada tahun 2020, volume produksi pabrikan SKT besar asing tersebut akan membus 2 miliar batang atau masuk ke golongan 1 dengan tarif cukai Rp setinggi Rp 290-Rp 365 per batang.

Menurut Joko, agar terhindar dari kewajiban membayar tarif cukai tertinggi di golongan 1, pabrikan beaar asing tersebut mengajukan agar batasan produksi SKT golongan 2 dinaikan dari 2 miliar menjadi 3 miliar batang. Dengan demikian, pabrikan beaar asing yang beroperasi di lebih 70 negara ini dapat menaikkan volume produksinya, sehingga omsetnya meroket dengan tetap menikmati tarif cukai murah.

Oleh karena itu, lanjut Joko, tanpa adanya kenaikan batasan produksi SKT golongan 2, para buruh linting telah menderita lantaran penurunan pangsa pasar SKT secara tajam dari 37 pesen pada 2006 menjadi 17 persen pada tahun 2018. Bahkan pada tahun 2019 sejumlah pabrikan SKT golongan 1 telah mengurangi jumlah produksinya serta meliburkan puluhan ribu pelinting selama bebrapa Hari.

Joko menambakan, saat ini sekitar 75 persen pekerja linting SKT bekerja di pabrikan SKT golongan 1. Untuk itu, apa pun kebijakan yang merugikan pabrikan SKT golongan 1 aka mempengaruhi penghidupan para buruh yang terlibat di dalamnya. ”Jika PHK terjadi, hal ini juga berimbas pada perputaran Perekonomian daerah,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya berharap pemerintah tidak tunduk pada usulan pabrikan besar asing, yang hanya Alias menyengsarakan puluhan ribu buruh linting yang hudupnya sebenarnya sudah menderita. Untuk itu, Joko berharap pemerintah jangan tunduk dengan usulan pabrik rokok asing.(red)