Mengenal Proses Perakitan Esemka di Boyolali

0
9

Berita-TKP.Com Esemka yang kembali muncul menuai pro dan kontra dari sejumlah masyarakat yang mempertanyakan bagaimana proses produksiya di fasilitas pabrik perakitan Boyolali, Jawa Tengah.

Tidak sedikit pihak menyebut bahwa PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) selaku agen pemegang merek Esemka cuma mengimpor komponen-komponen yang selanjutnya dirakit menjadi produk kendaraan di antaranya pikap Bima. Tudingan lain adalah melakukan rebagde atau sekadar mengganti emblem produk China, yaitu Changan Star Truck.

Mengenai fenomena Esemka, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencoba meluruskan.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kemenperin Putu Juli Ardika memaparkan PT SMK saat ini menggunakan skema multi source untuk ‘meracik’ produk Esemka Bima di Indonesia.

Ia pun menepis bahwa produk Esemka lahir dengan skema Completely Knock Down (CKD) atau membawa komponen terurai dari luar negeri untuk dirakit di Indonesia. Putu juga memastikan Esemka tidak menggunakan skema Incomplete Knocked Down (IKD).

“Sampai saat ini Esemka tidak menggunakan CKD dan IKD melainkan dengan cara part by part dengan multi sourcing (banyak sumber),” ucap Putu, Selasa (10/9).

Komponen dari berbagai sumber dijelaskan Putu dengan memanfaatkan komponen dari berbagai perusahaan dalam maupun luar negeri.

Masih kata Putu skema part by part multi source itu karena komponen lokal yang digunakan sudah lebih banyak, sehingga Esemka tidak menerapkan IKD. Klaim Kemenperin, Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri Esemka (TKDN) sudah mencapai 60 persen.

Ia pun menepis bahwa produk Esemka lahir dengan skema Completely Knock Down (CKD) atau membawa komponen terurai dari luar negeri untuk dirakit di Indonesia. Putu juga memastikan Esemka tidak menggunakan skema Incomplete Knocked Down (IKD).

“Sampai saat ini Esemka tidak menggunakan CKD dan IKD melainkan dengan cara part by part dengan multi sourcing (banyak sumber),” ujar Putu, Selasa (10/9/2019).

Komponen dari berbagai sumber dijelaskan Putu dengan memanfaatkan komponen dari berbagai perusahaan dalam maupun luar negeri.

Masih kata Putu skema part by part multi source itu karena komponen lokal yang digunakan sudah lebih banyak, sehingga Esemka tidak menerapkan IKD. Klaim Kemenperin, Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri Esemka (TKDN) sudah mencapai 60 persen.(red)