DPRD Jember Minta Karaoke di Kawasan Kampus Ditutup dan Direlokasi

0
13

Jember Berita-TKP.Com Komisi B DPRD Jember, Jawa Timur, meminta agar rumah karaoke Camp’us 888 di kawasan sekitar kampus agar ditutup dan direlokasi. Rumah bernyanyi tersebut belum mengajukan perpanjang izin.

Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat Komisi B dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Dinas Pariwisata, dan Kepolisian Resor Jember, Senin (7/10/2019). Rapat dengar pendapat digelar setelah terjadinya penganiayaan terhadap anggota DPRD Jember periode 2009-2014 Maman Sabariman di sana beberapa waktu lalu.

Rumah bernyanyi Camp’us 888 di Jalan Jawa berdekatan dengan kampus Universitas Jember dan Universitas Muhammadiyah Jember, serta dikelilingi rumah-rumah kos mahasiswa. Selain itu rumah bernyanyi ini terletak tepat di depan kantor Dinas Pariwisata dan Badan Pendapatan Daerah.

Rumah bernyanyi ini memperoleh perizinan pertama kali pada 2016 dari Dinas Pariwisata Jember, sebelum urusan perizinan dialihkan ke Dinas PTSP pada 2017. “Dari sembilan izin (rumah bernyanyi) yang kami terbitkan di Dinas Pariwisata, empat rumah bernyanyi sudah mengajukan perpanjangan di Dinas PTSP yakni Tiff, Aston 888, H20, dan Star Karaoke. Untuk yang lainnya belum ada perpanjangan. Menurut peraturan yang terbaru, masa berlaku izin tiga tahun.Seharusnya 2019 ini mereka mengajukan perpanjangan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Anas Ma’ruf.

Ketua Komisi B Siswono mengatakan, seharusnya Dinas Pariwisata, Dinas PTSP, dan Satpol PP berkoordinasi untuk menyegel rumah karaoke itu. “Rumah bernyanyi ini dilarang buka, dan sambil lalu menunggu proses lebih lanjut. Ini yang saya harapkan: ketegasan dinas terkait,” katanya.

Menurut Siswono, harus ada tindakan. “Apalagi tidak ada perpanjangan izin sampai hari ini, khusus 888,” katanya. Pemkab Jember memiliki ruang untuk menutup sementara rumah karaoke itu sembari persyaratan perizinan dan keamanan dipenuhi sehingga masyarakat tidak dirugikan.

Tatin Indrayani dari Fraksi Kebangkitan Bangsa menyesalkan tak adanya teguran terhadap rumah bernyanyi Camp’us 888 soal perpanjangan izin ini. Kasus penganiayaan terhadap Maman menjadi ranah kepolisian. “Tapi kami dari parlemen menyayangkan: ini potret kecil carut-marutnya Jember. Kenapa rumah bernyanyi 888 ada di daerah kampus,” katanya.

Sementara itu, anggota Komisi B dari Fraksi Pandekar Nyoman Aribowo mengusulkan agar rumah karaoke itu direlokasi dan tak lagi dibuka di kawasan kampus di Jalan Jawa. “Ketika mengajukan perpanjangan izin, perlu dikaji khusus terkait lokasi. Saya terus terang sangat prihatin. Kalau sampai ini tetap bertahan di situ, tidak pantas. Saya pikir tak ada positifnya. Tempat seperti ini harus dilokalisir di tempat tertentu. Saya mohon agar ini dikaji betul manfaat dan mudarat. Model seperti ini tidak pas di kampus,” ucapnya.

Siswono setuju. “Namanya kampus, itu wilayah di mana adik-adik menuntut ilmu di situ. Ketika ada tempat karaoke sangat mengganggu sekali,” katanya. Rencananya, Komisi B akan turun ke lapang melakukan inspeksi ke rumah karaoe Camp’us 888 bersama aparat kepolisian dan instansi pemerintah.

Kepala Dinas Pariwisata Jember Anas Ma’ruf menyatakan siap menindaklanjuti permintaan Komisi B. “Kami akan tindaklanjuti sebagaimana kewenangan kami masing-masing, terutama jika memang diperlukan untuk mengeksekusi sesuai prosedur yang ada,” katanya.

Menurut Anas, Dinas PTSP akan bergerak bersama Satuan Polisi Pamong Praja untuk mengecek, memperingatkan, dan bahkan menyegel. “Jika ada unsur kriminal, Satpol PP akan menyerahkannya ke polres. Kalau soal perizinan, Satpol PP yang akan mengeksekusi,” ujarnya.(red)