Ditemukannya Fosil Kerang dan Terumbu Karang di Trinil Ngawi

0
30

Ngawi Berita-TKP.Com Puluhan fosil kerang dan terumbu karang ditemukan di sedimen Sungai Bengawan Solo di dekat Museum Trinil Ngawi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bekerjasama dengan Leiden University dan Museum Naturalis Biodiversity Center Belanda.

“Banyak yang ditemukan dan semuanya diberikan kepada kami (museum Trinil),” ujar juru pelihara Museum Trinil, Agus Hadiwidiarto, Jumat (18/10/2019)

Ia menyebut, penemuan fosil tersebut diprediksi dari ribuan tahun silam. Sebelum jadi daratan, Ngawi merupakan lautan dan perlahan berubah menjadi rawa dan kering hingga menjadi tanah dataran.

Selain penemuan kerang dan terumbu karang, sebelumnya beberapa fosil juga ditemukan di Ngawi terdiri dari gading gajah ukuran 1.6 meter, gigi tikus, gigi buaya, gigi hiu.

Tidak menutup kemungkinan, fosil hewan dan fosil biota laut tersebut terseret oleh lahar gunung ketika meletus.

Tidak hanya Gunung Lawu, lahar Gunung Purba Nglanggeran yang ada di Jawa Tengah pun turut terseret hingga Ngawi.

“Bisa dibedakan, pasir dari Lawu itu kehitaman sementara Gunung Purba kemerahan. Dan di Trinil keduanya ada,” jelasnya.

Dibandingkan tahun sebelumnya, penemuan fosil kali ini jauh lebih sedikit karena pada musim kemarau tahun lalu setidaknya ada ratusan fosil yang berhasil diangkat dari dasar sungai.

Perbedaan jumlah tersebut lantaran sebagian penelitian kali ini turut difokuskan pada ekosistem sekitar Trinil, termasuk kondisi alam dan asal muasal fosil purba tersebut.

“Kali ini memang sebagian berfokus pada sampel tanah untuk mengetahui kehidupan di masa lampau termasuk ekologi,” ucapnya.

Diperkirakan, hingga kini jumlah fosil di wilayah Trinil mencapai ribuan karena temuan beberapa tahun terakhir mayoritas berasal dari kedalaman 0 hingga 70 sentimeter dasar sungai. Jika digali lebih dalam lagi, kemungkinan fosil lain akan kembali ditemukan.

Termasuk, fosil homo erectus yang sampai saat ini masih jadi misteri di Ngawi. Pasalnya, temuan manusia purba tersebut baru sekali didapati tahun 1891-1893 oleh Eugene Dubois ahli anatomi asal Belanda.

“Sampai saat ini temuan fosil manusia purba homo erectus baru sekali itu, belum ada lagi,” ujarnya.

Untuk fosil manusia purba yang ditemukan kondisi kerangkanya tidak lengkap. Dari total bagian tubuh, Eugene Dubois hanya menemukan kerangka tengkorak, tulang paha, dan gigi geraham.

“Akan jadi berita besar jika kelak kembali ditemukan fosil manusia purba tersebut,” ucap Agus sambil menyebut jika penemuan fosil oleh Dubois tersebut ditempatkan di Museum Belanda.

Penempatan fosil manusia purba tersebut diperkirakan oleh Agus oleh berbagai faktor. Mulai keamanan, teknologi penelitian, hingga sumber daya manusia dan peralatan di Indonesia kala itu jadi pertimbangan Dubois mengirim fosil ke tanah kelahirannya.

“Ia mengirim fosil manusia purba bersama ribuan fosil lainnya yang ditemukan kala itu. Sementara, di museum Trinil kini hanya terdapat replika temuan tulang tersebut,” tukasnya.(red)