Cara UWK Surabaya Peringati Hari Pahlawan, Sarasehan Kebangsaan

Surabaya Berita-TKP.Com Civitas akademika Universitas Wijaya Kusuma (UWK) Surabaya menggelar Sarasehan Kebangsaan pertama di Benteng Kedung Cowek, Surabaya, Selasa (12/11/2019).

Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan dengan tema ‘Teladani Semangat Kepahlawanan Perjuangan Arek-arek Suroboyo Demi Kemajuan Bangsa Tanpa Melupakan Saksi Sejarah. Acara ini sekaligus mencetuskan program wisata belanegara.

Ratusan mahasiswa, pelajar hingga dosen diajak untuk mengenali sejarah berdirinya Benteng Kedung Cowek yang dipaparkan Ady Setyawan, pendiri komunitas pecinta sejarah dari Roodeburg Soerabaia.

Ady mengatakan bahwa terdapat tiga patokan utama terkait berdirinya benteng yang terletak dekat Jembatan Suramadu-Pantai Kenjeran itu. Di antaranya, blue print atau buku biru, media massa pada masa itu dan para sejarawan.

“Benteng ini dirancang pada tahun 1899 dan dibangun pada tahun 1910 sebagai basis pertahanan. Setelah Belanda kalah, benteng ini dikuasai oleh militer Jepang. Namun karena Jepang juga takluk dari pasukan sekutu, akhirnya benteng tersebut diduduki Indonesia. Saat pertempuran 10 November, benteng ini dijadikan basis pertahanan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan pasukan Sriwijaya. Mereka bertempur melawan musuh menggunakan senjata meriam yang masih tersimpan, bekas peninggalan Belanda dan Jepang,” tegas Ady.

Sementara itu, Pabandya Bakti TNI Staf Teritorial Daerah Militer (Sterdam) V/Brawijaya Letkol inf Didi Suryadi mengingatkan agar pemuda tidak lupa sejarah. Sebab ancaman ke depan semakin kompleks dan multidimensional. Baik dari ancaman militer maupun nonmiliter.

Menurutnya, ancaman nonmiliter sangat sulit diprediksi dan diidentifikasi serta lebih berbahaya daripada ancaman militer. Sehingga tidak bisa diselesaikan dengan alutsista yang dimiliki TNI secanggih apapun. Untuk itu harus dibangun strategi ketahanan negara yang kuat.

“Kalau ancaman militer mudah diidentifikasi, karena suatu negara apabila akan melakukan perang harus ada pernyataan perang. Jika tidak ingin terjadi perang, maka melalui jalur diplomasi. Akan tetapi ancaman nonmiliter tidak ada pernyataan perang, masuk rumah tanpa permisi dan setiap hari di kantong kita, contohnya handphone,” imbuh Didi.

Rektor UKWMS Prof. Sri Harmadji mengungkapkan, pihaknya sengaja menggelar acara tersebut untuk mendekati Kodam Brawijaya serta pemerintah setempat, agar kawasan itu bisa digunakan sebagai program wisata belanegara.

“Jadi sarasehan ini selain untuk mengenali sejarah serta meneladani semangat kepahlawanan arek-arek Suroboyo. Acara memperingati hari pahlawan kita mengajak mahasiswa agar mencintai para pahlawan dengan mengunjungi lokasi sejarah. Dan saat ini kita beri contoh pada masyarakat bahwa cara kita mencintai pahlawan ini dengan cara seperti ini,” ungkap Sri Harmadji.

Ketua Yayasan Wijaya Kusuma Soedjatmiko menyebut, pada rinsipnya menghargai sejarah dan masa lalu adalah kepemimpinan yang arif.

“Karena yang lalu itu bukan residu sisa sampah, melainkan temukanlah yang baik untuk dikembangkan, yang jelek jangan diulang,” ujar Soedjatmiko.

“Mungkin jika ada event lain kita berkeinginan mengumpulkan 5000 siswa-siswi kelas 5 sekolah dasar mengajak dolanan atau bermain non gadget dan menyanyikan lagu dari Benteng Kedung Cowek ini,” imbuh Soedjatmiko.

Dalam acara tersebut juga dilakukan penyerahan beasiswa dari bank swasta kepada 200 mahasiswa berprestasi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya untuk membantu para mahasiswa berprestasi yang kurang mampu dalam pembiayaan.(red)