Untuk Menjamin Kelestarian Batik di Jatim, Terus Mendorong Penerapan SNI

0
11

Surabaya Berita-TKP.Com Badan Standardisasi Nasional (BSN) terus mendorong industri batik di Indonesia untuk menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Sebab standarisasi batik merupakan tools untuk menjamin kelestarian batik, agar tak tergerus oleh waktu.

Seperti yang saat ini dilakukan untuk 5 Industri Kecil Menengah (IKM) batik di Jawa Timur. BSN melakukan pembinaan terhadap industri tersebut hingga meraih SNI, seperti disampaikan Kepala Kantor Layanan Teknis (KLT) BSN Wilayah Jawa Timur, Yuniar Wahyudi, di Surabaya, Jumat (6/12/2019).

Menurut Yuniar, agar proses pembinaan berjalan efektif, BSN juga menggandeng pemangku kepentingan di Jawa Timur.

“Dari lima IKM batik di Jawa Timur yang dibina, dua di antaranya merupakan sinergi dengan PT. Petrokimia Gresik dan telah sukses mendapatkan SPPT SNI berdasarkan SNI 8302:2016, batik tulis-kain-ciri, syarat mutu dan metode uji, yaitu UD Vatur Jaya dan UD Zulpah Batik Madura,” ujar Yuniar.

SPPT SNI atau Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI diterbitkan setelah melalui serangkaian proses sertifikasi yang dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Produk (LsPro) yang sudah terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Hingga akhir tahun 2018, tercatat ada 9.824 perajin atau IKM Batik yang tersebar berbagai daerah di wilayah Jawa Timur, menyerap 29.571 tenaga kerja.

“Jumlah IKM terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan data, tren peningkatan jumlah IKM Batik, rata-rata 3 sampai 5 persen per tahun dengan daerah penyebaran terutama di daerah-daerah yang dikenal memiliki kekhasan motif batik antara lain Madura, Tuban, Tulungagung dan Banyuwangi,” katanya.

Untuk itu, KLT BSN di Surabaya siap mendukung para pelaku IKM di Jawa Timur untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produknya melalui penerapan SNI. Bagi BSN, nilai batik harus dapat terus terjaga dan kualitas batik itu sendiri harus terjamin.

“KLT BSN selalu terbuka untuk membina IKM yang memang ingin naik kelas,” jelas Yuniar.

Dengan perkembangan zaman, di mana pemahaman umum tentang batik menjadi beragam, maka di setiap daerah pun, IKM batik memiliki ragam motif yang bermacam-macam, dengan identitas masing-masing. Pertimbangan ekonomi dan industrialisasi batik memunculkan teknologi proses baru yang sedikit melenceng dari konsep awal batik, sehingga muncul produk-produk tiruan batik.

“Berkaitan itu, BSN menyusun SNI 0239:2014 tentang pengertian dan istilah-istilah batik, agar ada kesamaan persepsi masyarakat tentang batik. Berdasarkan SNI 0239:2014, batik dapat digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu batik tulis, batik cap dan batik kombinasi. Semuanya memiliki ciri khas masing-masing,” tambah Yuniar.

Dalam SNI juga mempersyaratkan mutu batik. Seperti dalam SNI 8302:2016, ciri-ciri batik tulis di antaranya berbau malam serta terdapat rembesan warna yang disebabkan tipisnya goresan malam.

“Adanya rembesan warna dalam batik tidak selamanya negatif. Justru itu merupakan ciri khas batik tulis,” tambahnya.

Berdasar SNI 8302:2016, batik tulis harus kuat dan tidak mudah sobek dan harus tahan luntur warna. Hal itu menunjukkan bahwa penerapan SNI dapat menjamin keaslian dan kualitas batik.(red)