CV Harunesia Berdamai Dengan Konsumen 

Surabaya Berita TKP_Com  Perkara antara Perusahaan penjual obat herbal, CV Harapan Baru Indonesia (Harunesia Grup /HG) dengan konsumennya Sri Hastuti berakhir damai dengan membuat surat kesepakatan bersama yang tidak saling menuntut

Surat tersebut ditandatangani oleh Irfan, direktur CV. Harunesia dengan Neny Indriani, anak dari Sri Hastuti pada tanggal 25 Nopember 2020 dengan disaksikan oleh beberapa Anggota Perwakilan Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPKNI) kota Surabaya di kantor CV. Harunesia.

Perlu diketahui, Bermula ketika Sri Hastuti membeli paket obat herbal kepada sales Harunesia yang mendatangi kediamannya di Manukan, Surabaya. Dan ditemukan salah satu obatnya kedaluwarsa. Hal itu disampaikan Aries anak dari Sri Hastuti kepada media ini.
“Hari Kamis lalu (19/11/2020) ibu sendirian dirumah di datangi 4 orang menjual obat herbal yang harga paketnya Rp 7 Juta, dan di diskon menjadi Rp 3,5 juta. Karena ibu sakit depresi sering minum obat dan gampang tertekan akhirnya ibu mengeluarkan uang Rp 3,5 juta untuk membeli paketan obat herbal itu,” jelasnya ke awak media saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Senin (23/11/2020) petang.
Aries menjelaskan besoknya (Jumat) ibunya cerita ke adiknya Aries bahwa ibunya beli obat herbal seharga Rp 3,5 juta. Aries akhirnya menelpon ke sales obat herbal dan meminta merefund uangnya dan mengembalikan obat yang dibeli ibunya. akan tetapi tidak disetujui oleh perusahaan herbal tersebut.
Pada saat Aries melihat obat herbal yang dibeli ibunya berjumlah 10 buah, ditemukanlah salah satu obat yang didusnya tercantum tanggalnya sudah kedaluwarsa (expired).
Akhirnya Aries didampingi Tim Perwakilan Lembaga Perlindungan Konsumen Nusantara Indonesia (LPKNI) kota Surabaya mendatangi kantor CV. Harapan Baru Indonesia (Harunesia Grup/HG) Media Therapy Terma & Sujok di ruko HR Mohammad Surya Inti Pratama II Surabaya, Jawa Timur. Senin (23/11/2020).
Dari penjelasan Aries, dalam pertemuan itu pihak perusahaan obat herbal mengakui ada kelalaian dari pihak gudang dan konsultan yang tidak teliti dalam cros cek obat sebelum di jual.
Ketika awak media melakukan konfirmasi langsung ke Direktur Harunesia, Irfan, dirinya menjelaskan bahwa kejadian itu adalah human error.
“Memang benar ada yang exparied, itu human error dari konsultan kami yang salah ambil produk. Dari 11 produk yang di beli konsumen ada satu yang exparied, dan itu tanggung jawab konsultan yang salah ambil produk,” ungkap Irfan pada Selasa (24/11/2020) siang.
Irfan juga menjelaskan bahwa produk yang dijual tidak semuanya exparied. “Itu menandakan kita tidak sengaja tapi human error. Ketika tahu ada yang exparied dari konsumen, kita punya niat baik untuk mengganti produk dan mengembalikan uang sebesar Rp 3,5 juta,” urainya.
Selang beberapa hari, akhirnya kedua belah pihak menyatakan damai dan tidak saling menuntut di kemudiannya hari. Hal itu di tandai dengan penandatanganan surat kesepakatan bersama. @red