Banjir akibat luapan sungai Citarum mengakibatkan 5 Desa terisolir selama tiga hari akibat tanggul sungai Citarum jebol

Jakarta, BeritaTKP.Com  -Merehabilitasi lahan di hulu sungai Citarum melalui program penghijauan. Langkah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini mendapat apresiasi dari Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURP), Jarot Widyoko.

Upaya rehabilitasi ini bisa mengurangi volume limpasan air hujan ke aliran sungai yang kerap menyebabkan bencana banjir.

“Kami patut berbangga ada ide yang sudah dimotori oleh Kepala BNPB (Doni Monardo) terutama di daerah Citarum. Ini suatu kegiatan yang luar biasa dengan membersihkan dan menanam pohon di DAS untuk merehabilitasi lahan,” ujarnya dalam Rakornas Penanggulangan Bencana 2021 bertema Tangguh Hadapi Bencana, Jumat 5/3/2021.

Untuk saat ini, jumlah sungai berstatus kritis meningkat tajam di Indonesia. Hal ini ditandai dengan kini menyusutnya volume air yang tertahan di DAS, sehingga bencana banjir sering terjadi saat memasuki musim penghujan.

“Sekarang air yang tertahan di DAS tinggal 10 sampai 15 persen kurang. Itu menunjukkan limpasan sungai menjadi besar, ini trennya naik setiap tahun,” ungkapnya.

Maka dari itu, dia mengajak seluruh Pemerintah Daerah dan stakeholders terkait untuk meniru semangat Kepala BNPB dalam merehabilitasi lahan di hulu sungai wilayahnya. Namun, bisa dengan cara-cara yang berbeda-beda disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang ada.

“Untuk mengurangi limpasan ke sungai bisa dengan bermacam-macam cara, ada bioporii, bisa juga membuat sumur serapan, atau membangun embung, membuat situ-situ. Tujuannya kembalikan air hujan yang turun ke dalam bumi. Atau kita tahan air selama-lamanya ke bumi sebelum masuk ke sungai,”pungkasnya.

Sebelumnya, salah satu hambatan dalam pengendalian banjir yaitu pembebasan lahan terkait upaya memperbesar kapasitas tampungan sungaii. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Sungai dan Pantai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURP), Bob Arthur Lombogia.

Bob mengatakan, berbagai upaya dalam pengendalian banjir memakan biaya yang cukup besar. Oleh sebab itu, pembebasan lahan sering menjadi kendala dalam pengendalian banjir.

“Kami ingin mengatasi suatu masalah, tapi kami juga menghadapi masalah di lapangan yaitu pembebasan lahan. Sering sekali menjadi hambatan, sehingga upaya-upaya memperbesar kapasitas tampungan sungai belum dapat terlaksana,” kata Bob.

Katanya, pemerintahan  telah melakukan berbagai upaya penanganan banjir, termasuk membangun tampungan-tampungan air seperti waduk dan kolam retensi. Peningkatan kapasitas tampungan sungai pun harus dilakukan, sehingga harus dibangun dalam bentuk tanggul, normalisasi atau pengerukan.

Hal penting lain yaitu penataan drainase. Pemerintah sudah membangun banyak tanggul, tapi kata Bob, banyak penyebab banjir adalah drainase di sepanjang sungai tidak lancar.

“Itu yang sering kita lihat pada saat terjadi banjir. Setiap hari kalau ada hujan lebat terjadi genangan air, itu karena drainase tidak bisa keluar, sehingga perlu ada penataan,”ungkapnya. SH/Red