Candi Ngetos Di Kaki Gunung Wilis, Riwayatmu Kini Di Negeri Ngatas Angin

Candi Ngetos Gunung Wilis
Candi Ngetos Gunung Wilis

Nganjuk, Berita TKP – Ketika Tim kami melakukan penelusuran lokasi kejadian tanah longsor beberapa waktu lalu yang menelan banyak korban satu dusun tertanam longsor, kami menyempatkan diri mampir di Candi Ngetos sebuah peninggalan budaya jaman Mojopahit, disini kita akan mencari tahu latar belakang atau sejarah candi ini.

Candi Ngetos merupakan sebuah candi penting dari era Majapahit yang terletak di kawasan Kabupaten Nganjuk. Candi Ngetos terletak di lereng utara Gunung Wilis dan secara administrasi berada di barat Jalan Raya Ngetos, tepatnya di Dusun Ngetos, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Lokasinya berada di barat daya dan berjarak kurang lebih 14 kilometer dari ibu kota Kabupaten Nganjuk.

Bangunan Candi Ngetos dibangun dari bata merah, khas bangunan di era Majapahit. Kini, beberapa bagian bangunan candi sudah rusak dan hilang, sementara yang tersisa tinggal induk candi seluas sembilan meter persegi dengan tinggi 10 meter.

Di Candi Ngetos pernah ditemukan arca Siwa dan Wisnu. Hl ini kemudian menimbulkan asumsi bahwa candi ini beraliran Siwa Wisnu. Asumsi tersebut diperkuat dengan aliran agama Siwa yang dianut oleh Hayam Wuruk. N.J. Krom memperkirakan bahwa Candi Ngetos semula dikelilingi tembok yang berbentuk cincin. Bangunan utama candi terbuat dari batu bata merah dan atapnya diperkirakan terbuat dari kayu (kini sudah tidak ada bekasnya). Candi Ngetos berukuran panjang 9,1 m, tinggi badan 5,43 m, dan tinggi keseluruhan 10 m.

Terdapat empat buah relief di Candi Ngetos, namun karena faktor usia relief tersebut hanya terisa satu dan tiga lainnya telah ancur. Tidak hanya relief yang hilang melainkan pigura – pigura pada alasnya yang juga telah tidak ada lagi. Pada bagian atas dan bawah pigura, dibatasi oleh loteng – loteng yang terbagi dalam cendela – cendela kecil berhiaskan ketupat yang tepinya tidak rata atau menyerupai bentuk banji. Hal tersebut berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedangkan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah dan ornamen daun.

Pada sisi kiri dan kanan candi terdapat dua relung kecil. Diatasnya terdapat ornamen yang mirip dengan belalai makara. Namun jika diperhatikan ternyata belalai tersebut adalah bentuk spiral yang diperindah. Dinding candi ini kosong dan hanya terdapat motif daun yang melengkung ke bawah dan horizontal melingkari tubuh candi bagian atas. Ada hal menarik dari kala yang terlihat sangat besar dengan ukuran tinggi 2 m dan lebar 1,8 m. Kala tersebut masih utuh dengan wajah menakutkan.

Latar sejarah mengenai Candi Ngetos belum banyak diketahui

Pegiat sejarah dari Komunitas Pencinta Sejarah Nganjuk (Kota Sejuk), Sukadi menjelaskan, Berdasarkan mitos yang berkembang, candi ini dipercaya sebagai tempat pendharmaan Hayam Wuruk, raja terbesar Majapahit yang bergelar Rajasa Negara. Yang mendirikan candi ini adalah paman Hayam Wuruk, yakni Raja Ngabei Siloparwoto dengan patihnya bernama Raden Bagus Condrogeni/ Condromowo dari kerajaan vassal Majapahit yang bernama Ngatas Angin (sekarang di sekitar Nganjuk). Candi ini didirikan di lereng Gunung Wilis yang merupakan salah satu gunung suci di tanah Jawa. Pendirian candi yang terletak di lereng gunung dimaksudkan agar bangunan suci berada lebih dekat dengan kediaman para dewa. Karena menurut kepercayaan pada masa silam, puncak gunung merupakan kediaman para dewa.

Mitos Ngatas Angin ini sepertinya memang sudah lekat dengan Nganjuk, dimana kabupaten ini juga sering disebut kota angin. Entah berkaitan atau tidak tapi ini memang keren.

Lain dengan keterangan Juru pelihara Candi Ngetos, Aris Trio Effendi mengatakan, dulu wilayah Ngetos dikenal sebagai tanah suci. Aris mengatakan, Negeri Ngatas Angin Ngetos merupakan salah satu pusat peradaban agama Hindu di wilayah Kerajaan Majapahit“Di sini (dahulu) tempat peradaban agama Hindu yang terbesar, dan di dalamnya itu (tinggal) tokoh-tokoh Hindu terkenal, seorang resi atau pendeta-pendeta yang terkenal,” jelas Aris saat dtemui di kediamannya di Ngetos.

Sebelum meninggal, kata Aris, Raja Hayam Wuruk berwasiat didharmakan di tanah suci kaki Gunung Wilis, Ngetos “Pendharmaan dapat juga disebut penghormatan kepada sesuatu atau seseorang yang kita agungkan,” sebut Aris.

Berbeda dengan Sukadi, menurut Aris abu kremasi Hayam Wuruk tidak disimpan di Candi Ngetos. Adapun Candi Ngetos yang ada merupakan candi pendharmaan saja, yang tujuan dibangunnya agar kelak warga tetap mengenang sosok Hayam Wuruk n“Itu (abu kremasi disimpan di Candi Ngetos) hanya pendapat orang luar saja, tapi secara tertulis tidak ada bukti,” Masih dipakai peribadatan umat Hindu, warga Ngetos tak ada lagi yang beragama Hindu, mayoritas warganya muslim.

Meski begitu, Candi Ngetos masih tetap terpelihara dengan baik dan masih aktif dipakai sebagai tempat peribadatan umat Hindu“Masih aktif (dipakai tempat peribadatan) hingga sampai sekarang,biasanya umat Hindu di Kabupaten Nganjuk dan luar kota datang ke Candi Ngetos untuk beribadah di hari-hari tertentu.

Mereka berkunjung sebelum hari raya agama Hindu seperti Nyepi dan Kuningan, Kemarin sebelum nyepi itu juga datang (umat Hindu untuk beribadah di Candi Ngetos). Mereka dari luar kota, ada Jawa Tengah, Jawa Barat, banyak nggak hanya terbatas orang Nganjuk saja,” (Tim dlg)

Download Apps BeritaTKP di Hp Anda