Sunardi alias Jayus Sang Pandai Besi dari Desa Balong Asem Kec Lengkong Nganjuk

Nganjuk, BeritaTKP – Profesi pandai besi atau pandai wesi sudah dikenal sejak dulu dan tercatat di banyak prasasti Jawa Kuno, namun kini keberadaan pandai besi nyaris terlupakan seiring dengan banyaknya perkakas pabrik.

DiKabupaten Nganjuk keahlian dan ketrampilan menempa besi secara tradisional ini masih ditekuni segelintirorang,  bahkan diwariskan turun temurun ke generasinya dan bertahan hingga kini.

Melalui kegesitan tangan Sunardi alias Jayus 22 THN berasaldari Desa Balong Asem Kecamatan Lengkong Kabupaten Nganjuk, Api di tungku pembakaran itu semakin membesar setelah mesin peniup angin dinyalakan sedemikian besar hingga nyaris menjilat atap, lidah api itu dipakai untuk membakar besi sabit, cangkul, dan linggis, aneka perangkat besi itu kemudian ditempa dengan martil, lalu dicelupkan di bak air pendingin.

Proses tersebut dilakukan berulang kali sebelum akhirnya dihaluskan dengan gerinda mesin agar halus dan tajam”Nanti dulu, ini harus ditempa terus sampai pas,” jelas Jayus dengan logat Jawa kental.

Beberapa lama kemudian, pekerjaan lelaki berusia 22 tahun itu rampung.

Sunardi alias Jayus adalah satu dari sedikit pandai besi tradisional yang masih tersisa. Keahlian dan ketrampilannya menempa besi menjadi aneka perkakas dikenal banyak petani di sekitar Kabupaten Nganjuk.

Teknik menempa besi dan menjaga kualitas produk. Hal itu penting agar pelanggan puas sehingga bisa datang lagi. Sebaliknya, jika kualitas produk buruk, pembeli tidak akan kembali “Kalau tidak bagus tidak ada yang datang, yang beli kapok. Makanya ayah selalu berpesan yang penting bagus agar dicari orang. Barang yang bagus kan dicari orang, yang paling bagus jangan sampai kalah dengan bikinan orang lain. Kalau tidak bagus nanti orang yang beli kapok,” imbuhnya.

Sunardi alias Jayus mampu memperkirakan dan mengukur tingkat panas api tanpa menggunakan alat pengukur suhu “Panasnya perkiraan jangan sampai kemerahan dan kehitaman. Pas merah sama seperti bulan tanggal satu. Dicelup, semua pakai rasa. Itu untuk melenturkan besi agar mudah dibentuk. Kalau tidak seperti itu tidak jadi. Besinya lebur di api, hancur ya rugi.”

Tak ada alat cetak untuk meleburkan dan mencetak besi menjadi aneka perkakas, dari parang hingga wajan “Nggak pakai cetakan, dikarang saja, dikira-kira terus dibentuk. Kalau dicetak kan kayak bubur. Ini besi mentah, dipanaskan dan dibentuk sejadinya. Kalau masih tebal kikir lagi, digosok. Kalau mencong-mencong ya ditempa terus.”

Dari besi bekas kendaraan hingga arang kayu jati Sunardi alias Jayus mencari sendiri berbagai bahan baku yang digunakan mulai dari besi-besi bekas kendaraan berat hingga arang kayu jati.

Menurutnya, bahan itu mampu menghasilkan proses pembakaran maksimal dan hasil produk berkualitas bagus.”Cari dari penampung rongsok. Cari sampai dapat, makanya sampai ke mana-mana. Sekarang lebih mudah dibandingkan zaman dulu masih dikit.”(Mbah RI)