Warga Laporkan Kades Soal Lahan Eks Pasar Sapi Purwokerto Kediri

Lahan Eks Pasar Sapi Purwokerto Kediri
Lahan Eks Pasar Sapi Purwokerto Kediri

Kediri, BeritaTKP – Karena Kades Agus Nur Ariful Anam membuat kebijakan yang dianggap seenaknya terkait Bumdes Pasar Sapi, akhirnya warga Desa Purwokerto melaporkan Kades Agus ke Polres dan dilampiri Surat Tembusan dari :Kemendes Daerah Tertingal dan Transmigrasi, Kapolri, Kadiv Propam Jakarta, Kompolnas Jakarta, Kapolda Jawa Timur, Kadiv Propam Polda jawa Timur.

Hasil penelusuran berita TKP dan pengumpulan data dan informasi, banyak warga yang tidak suka dengan cara kerja Kades Baru ini apalagi sampai membuat cemar mantan Kades Lamidi dan berita TKP mendapatkan informasi dari sumber tokoh warga yang tidak mau menyebutkan namanya bahwa Kades purwokerto Kediri Agus Nur Aripul pernah mendapat bantuan dari Kementrian Desa (Kemendes) sebesar 50 juta yang diperuntukkan untuk menambah 3 (tiga) kios/lapak baru, namun kenyataannya bantuan tersebut diminta sebesar 4 juta yang tidak tahu digunakan untuk apa.

Pada bulan April tahun 2020 Desa purwokerto menerima Dana Desa (DD) yang dialokasikan untuk bantuan langsung tuntai (BLT). Dan pada waktu itu pendataan sudah sampai di pusat dan sudah di setujui oleh BPD, RT, RW dan para tokoh masarakat namun kades Aripul seenaknya mengubah 8 (delapan) nama yang berhak mendapat bantuan dengan delapan nama-nama tim sukses Kades saat pilkades “Bantuan sebesar 50 juta dari Kemendes untuk menambah 3 kios baru yang 4 juta diminta Kades, tidak tahu digunakan untuk apa. Bulan April 2020 lalu, bantuan BLT yang seharusnya diterima oleh warga yang berhak namun Kades Ariful mengganti penerima dengan orang-orang terdekatnya,” ucap Sumber.

Masih menurut Sumber, pada tahun 2005 saat Kades Ariful masih menjabat 2 periode Desa Purwokerto mendapatkan progam Ajudikasi yang dibiayai oleh Bank Dunia sebesar 2 juta rupiah dan kuota yang mendaftar ada 1000 bidang tanah. Tapi Kades Agus Nur masih menarik sebesar 150 ribu per bidangnya dan tidak tahu diperuntukkan kemana hasil penarikan uang tersebut.

“Waktu masih menjabat 2 periode tahun 2005 lalu, Kades Ariful mendapat Program Ajudikasi kuota 1000 bidang dan per bidang dapat bantuan 2000 dari Bank Dunia. Namun, Kades masih menarik warga 150 ribu per bidangnya. Kompensasi perumahan sebesar 30 juta yan seharusnya masuk Kas Desa juga digunakan Kades Ariful tanpa kejelasan,” tutur Sumber.

Sedangkan kompensasi perumahan yang ada di Desa Purwokerto sebesar 30 juta yang disertai kwitansi yang seharusnya masuk Kas anggaran desa tahun 2020, diambil oleh Kades Ariful digunakan untuk apa juga tidak jelas kegunaannya.

Ditambahkan Sumber, hasil penyewaan Gedung Serbaguna Desa Purwokerto sebesar 4 juta yang peruntukannya masuk PAD ternyata juga tidak jelas digunakan untuk apa oleh Kades Ariful. Ditambah lagi terkait Bumdes Pasar Sapi semua anggotanya mengundurkan diri, dan sekarang dikelola Bagiyo suruhan dari kades Agus Nur tanpa adanya payung hukum yang jelas.“Waktu Mas Dhito kampanye disini dan digunakan reses salah satu anggota Partai dan gedung serbaguna disewa, dari sewa GSB total 4 juta tidak masuk Kas Desa. Bumdes Pasar Sapi tidak ada anggotanya karena mengundurkan diri, sekarang dikelola Bagiyo orang suruhan Kades Aripul,” pungkas Sumber.

Pengelolaan tanah bekas Pasar Sapi oleh Mantan Kades Lamidi yang dilaporkan oleh Agus Nur Ariful Anam Kades sekarang yang terpilih Desa Purwokerto Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri sebagian warga yang enggan dipublikasikan namanya mulai buka suara karena apa yang dituduhkan pada mantan Kades Lamidi tidak ada kebenaranya, semua informasi yang berkembang ternyata terbalik dengan kenyataannya, Mantan Kades Lamidi pada masa pemerintahannya justru menguntungkan desa.

Waktu pemerintahan Lamidi dengan kebijakannya mengundang pengembang untuk membiayai proyek pembongkaran bekas Pasar Sapi. Setelah mendapat kesepakatan, desa mendapat sepuluh persen dari pengembang hasil keuntungan penjualan Ruko.

Semua pembongkaran bekas Pasar Sapi dan pembangunan menjadi Ruko dibiayai oleh pengembang, pihak desa tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Setelah Ruko jadi, sepuluh persen hasil dari penjualan berkisar 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dimasukkan Kas desa sebagai Pendapatan Asli Desa (PAD), dan diperuntukkan membangun Kantor Desa Purwokerto.

Sumber mengatakan, Kades Lamidi pada saat itu mempunyai niatan untuk membongkar Pasar Sapi yang mangkrak bekerjasama dengan pengembang. Niatan baik mantan Kades Lamidi tersebut, mendapat respon baik dari seluruh perangkat desa. Setelah itu dibuatkan Perdes dan penandatanganan MoU serta dirapatkan dengan BPD, LPMD, dan RT/RW. Proyek dibiayai oleh pengembang dan sepeserpun pihak desa tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Pasar Sapi yang mangkrak itu adalah hasil karya dari Kades sekarang yang terpilih lagi Agus Nur Aripul Anam.

Dari penerimaan harga penjualan Ruko pihak desa mendapat sepuluh persen, dimasukkan Kas Desa sebagai PAD. Untuk pembongkaran dan pembangunan Kantor Desa Purwokerto merupakan dana APBDes tahun 2011. Pertama diajukan 200 juta terealisasi 200 juta, tahap kedua tahun 2013 diajukan 200 namun habisnya 268 juta. Jadi total 468 juta. Sebelah barat hasil dari keuntungan penjualan ruko sepuluh persen nilanya berkisar 300 juta, dan kurangannya 168 itu dari lelang bengkok carik. Semua ada di LPJ.

“Niat baik Kades Lamidi saat itu ingin membongkar bekas Pasar Sapi yang sudah mangkrak dijadikan Ruko. Dari hasil keuntungan penjualan Ruko pihak desa mendapat sepuluh persen, dan itu digunakan untuk pembangunan Kantor Desa Purwokerto tahun anggaran 2011,” terang Sumber.

Sejak adanya niat warga yang melaporkan dirinya, Kades Purwokwrto Kediri Agus Nur Ariful Anam sulit untuk ditemui, sering tidak ada dikantor. (dlg)

Download Apps BeritaTKP di Hp Anda