Banyuwangi, BeritaTKP.Com – Seorang  ibu rumah tangga bernama Mu’awanah ,51, warga Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memproduksi uang rupiah palsu dalam berbagai pecahan dengan hanya bermodal alat sederhana yakni dengan menggunakan printer dan setrika.

Mu’awanah, tersangka pengedar dan pembuat uang palsu

Dalam setiap produksinya, terdapat pecahan uang asli tapi palsu alias aspal Rp 100 ribu, Rp 50 ribu dan Rp 20 ribu. Uang ini sengaja dibuat dengan memanfaatkan momen Ramadhan dan Lebaran sebagai alat penukaran sekaligus untuk angpao. Uang hasil cetakannya ini dijual di pinggir-pinggir jalan dan disamarkan.

Uang palsu yang dicetak tersangka ternyata tidak sepenuhnya palsu. Sebab, bahan baku yang digunakan juga berasal dari uang asli. Setelah bagian depan dan belakang uang asli dipisahkan, tersangka kemudian mencetak bagian depan dan belakang uang palsu dengan Scan Printer. Uang palsu tersebut kemudian ditempelkan pada bagian depan dan belakang uang asli yang sudah dipisahkan.

“Yang bersangkutan sudah dua kali ditangkap dengan kasus yang sama pada 18 Juni 2010,” ujar Kapolresta Banyuwangi Kombespol Arman Asmara Syarifudin.

Hingga kini, Polisi masih terus mendalami dan mengembangkan kasus ini. Termasuk mencari keterlibatan oknum lain dalam bisnis uang palsu. Tersangka diduga telah mengedarkan uang-uang tersebut bukan hanya di Banyuwangi saja. Namun, hingga sampai di luar provinsi.

“Kami terus kembangkan. Untuk sementara, uang asing kita kembangkan, serta kita kembangkan nilai nominalnya,” imbuhnya.

Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, tersangka terjerat pasal 36 ayat (2) JO pasal 26 ayat (2) UU RI No 7 Tahun 2011 tentang mata uang. “Ancaman hukumannya 10 tahun kurungan penjara dan denda paling banyak 10 miliar rupiah,” tutup Arman. /Npr/Red