Diduga Cemarkan Nama Baik Nakes-Rs Lewat Status Whatsapp, Warga Asal Pamekasan Diamankan

Probolinggo, BeritaTKP.Com –Beredar informasi yang dinilai mencemarkan nama baik tenaga kesehatan dan rumah sakit, Pelaku berinisial MS (22), diamankan Satreskrim Polres Probolinggo Kota. Warga Kabupaten Pamekasan yang berdomisili di kota itu diamankan, Sabtu (31/7) siang.

Ilustrasi

Dugaan itu muncul setelah MS mengunggah di aplikasi status WhatsApp (WA), sekitar seminggu lalu. Dalam isi status WA yang dibuatnya, MS mengatakan rumah sakit memperjualbelikan tabung oksigen dan obat-obatan. Dia juga menulis status yang diduga merendahkan Satgas Covid-19.

Awalnya, status itu dianggap biasa. Namun, kemudian RSUD dr. Moh Saleh Kota Probolinggo mengadukan laporan terkait status tersebut ke Polresta Probolinggo. Dalam aduannya, RSUD menuding status WA itu telah mencemarkan nama baik nakes dan rumah sakit. Termasuk, seluruh Satgas Covid-19. Sehingga, pihak kepolisian bergerak mengamankan pelaku.

Kasat Reskrim Polresta Probolinggo AKP Heri Sugiono menerangkan, setelah diamankan MS langsung dibawa ke Mapolresta untuk dimintai keterangan. Saat itu, pihaknya juga memanggil Plt Direktur RSUD dr. Moh Saleh, dr Abraar HS Kuddah.

Pada petugas, Pelaku mengaku mengunggah status di WA lantaran kecewa pada nakes dan rumah sakit. Orang tuanya yang tinggal di Pamekasan, beberapa waktu lalu meninggal akibat tak kunjung mendapatkan tabung oksigen. Rupanya postingan di WA itu tersebar luas, lantaran dinilai mencemarkan nama baik rumah sakit dan nakes.

“Kami masih melakukan klarifikasi. Yang jelas, ada pengaduan yang masuk tentang status MS ini. Saat ini, yang bersangkutan akan kami bina,” tandasnya.

Sementara itu, Plt Direktur RSUD dr Moh Saleh, dr Abraar HS Kuddah ditemui di Mapolresta Probolinggo sangat menyayangkan status MS. Abraar menilai, statusnya memojokkan petugas Covid-19 secara umum.

“Saya ingin masyarakat paham bahwa Satgas Covid-19 tidak pernah tebang pilih. Baik dari TNI-Polri, nakes dan lainnya. Kami bergandengan tangan untuk bisa keluar dari kondisi pandemi ini. Namun, malah kami diberi tekanan seperti itu. Katanya jual tabung lah, obat-obatan lah, oksimeter lah,” ungkap Abraar.

Abraar sendiri bertanya langsung pada MS saat dipertemukan di Mapolresta, apakah jual beli itu terjadi di rumah sakit yang dipimpinnya itu? Dan MS menjawab tidak.

“Saya tanya pada yang bersangkutan, apakah jual beli itu terjadi di rumah sakit yang saya pimpin? Yang bersangkutan bilang tidak. Untuk tabung oksigen, memang tidak bisa sembarangan orang membawanya. Harus di rumah sakit dengan didampingi tenaga medis,” tambahnya.

Ia berharap, postingan status  WA yang memojokkan itu tidak terjadi lagi. Sebab, pandemi Covid-19 tidak hanya dirasakan masyarakat. Tetapi, semua nakes juga merasakan dampaknya.

“Saya ingin status seperti itu tidak terulang lagi. Biar jadi pelajaran, sehingga dilakukan pembinaan. Namun, hal itu tetap menjadi wewenang dari pihak kepolisian,” pungkasnya.  (Red)