Sumatera Utara, BeritaTKP.com – Seorang narapidana bernama Khalif Raja di Medan, Sumatera Utara yang divonis hukuman mati atas kasus peredaran 52 kg narkoba jenis sabu. Khalif disebut sebagai otak pengendalian sabu dari dalam lapas.

“Menjatuhkan hukuman mati kepada Terdakwa,” tulis isi putusan dalam situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PN Medan, dilihat pada Kamis (23/9/2021). Putusan atas Khalif ini dijatuhkan pada hari Selasa (22/9) semalam.

Putusan ini sama dengan tuntutan yang dilayangkan oleh jaksa penuntut umum. Pada sidang penuntutan yang digelar pada Selasa (24/8), JPU juga menuntut Khalif untuk dijatuhi vonis hukuman mati.

Di dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) sudah dijelaskan peristiwa peredaran sabu yang dikendalikan oleh Khalif terjadi pada 28 Desember 2020 yang lalu. Khalif menugaskan sejumlah orang untuk mengedarkan 52 kg sabu yang dibawa dari Aceh ke daerah Medan.

“Polri telah mengetahui adanya pergerakan peredaran gelap narkotika jenis sabu-sabu, langsung melakukan tindakan dengan terlebih dahulu melakukan penangkapan terhadap Fadila Fasha, Syahridi, dan Dudiet Harry Utomo,” tulis isi dakwaan.

Dari pemeriksaan sejumlah orang, diamankan barang bukti berupa 52 kg sabu. Selain itu, ditemukan keterlibatan Khalif dalam peredaran narkoba ini.

“Dalam penggeledahan di Perumahan Meher Palace Nomor 8D, Kelurahan Harjo sari I, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, telah ditemukan 50 (lima puluh) bungkus yang berisikan serbuk kristal dengan jumlah berat seluruhnya kurang-lebih 52.613 gram.

Dan selanjutnya petugas melakukan pengembangan dan melakukan penangkapan masing-masing terhadap terdakwa Khalif Raja, Andika Fiezza Siregar alias Ompit, dan Hendrikal di tempat yang terpisah,” tulis isi dakwaan.

Untuk diketahui, Khalif juga berstatus sebagai seorang narapidana di Lapas Kelas I Medan karena terjerat kasus peredaran narkoba. Khalif dijatuhi hukuman 20 tahun penjara dalam kasus sebelumnya pada tanggal 12 Januari 2018 silam.

(RED)