Surabaya ,Berita TKP.Com–  Kasatreskrim Polrestabes Surabaya sempat meminta mundur wartawan ketika mewawancarai Kapolrestabes Surabaya pada Jumat (24/09/2021) di Lapangan A Polrestabes Surabaya. Terkait peristiwa tersebut, Arief Rahman selaku ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur dan Ainur Rohim selaku Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim angkat bicara.

Dihubungi via panggilan telepon, Ainur Rohim menyayangkan sikap Kasatreskrim Polrestabes Surabaya. Tetapi, ia pun juga mengimbau kepada para jurnalis agar mematuhi protokol kesehatan di masa pandemi.

“Teman-teman wartawan harus memahami bahwa saat ini masih dalam kondisi pandemi, sehingga harus jaga jarak. Tetapi ketika ada peringatan yang kurang pas, ya sangat disayangkan,” kata Ainur.

Ia pun menambahkan bahwa profesi wartawan memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pesan secara faktual. Oleh sebab itu harusnya kerja wartawan tidak dipersulit apalagi ketika wartawan tersebut telah melakukan pekerjaannya sesuai dengan kode etik jurnalistik.

“Bahwa profesi ini dilindungi Undang-Undang no 40 tahun 1999. Jadi berharap pemangku kepentingan untuk bisa menghormati profesi ini sehingga wartawan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik,” imbuhnya.

Sepakat dengan pernyataan ketua PWI Jawa Timur, Arief Rahman selaku Ketua AMSI Jatim pun meminta Kapolrestabes Surabaya untuk menegur Kasatreskrim.

“Kami menyayangkan tindakan yang bisa dikatakan berlebihan dari Kasatreskrim Polrestabes Surabaya karena memang para jurnalis ini juga sedang melakukan tugas jurnalistiknya. Kapolres harus menegur Kasat dengan keras lah,” ujarnya lewat panggilan telepon.

Saya Hanya Ingatkan Prokes Jaga Jarak

Menurutnya, sepanjang wartawan masih dalam konteks kerja jurnalis seharusnya dapat sama-sama menghormati karena pada dasarnya saling membutuhkan. Apalagi pihak kepolisian erat kaitannya dengan peristiwa (berita cepat) sehingga ia mendesak agar Kapolrestabes Surabaya melakukan pembinaan kepada jajaran kepolisian di bawah agar dapat menjalin komunikasi dengan baik.

“Wartawan yang bekerja di media profesional harus melakukan konfirmasi. Karena itu seharusnya para pimpinan jajaran Polrestabes harus memahami kerja jurnalis. Kalau tidak maka nanti media akan sangat dirugikan ketika orang yang berkompeten tidak merespon secepat mungkin. Sehingga kita tidak bisa menyediakan informasi kepada masyarakat,” tutupnya. (Imam B/Red)