Kalimantan Timur, BeritaTKP.com – Juwana ,25, wanita korban pembunuhan yang ditemukan tinggal tulang belulang di Samarinda. Polisi melakukan tes DNA pada tulang belulang milik korban guna memastikan apakah benar tulang belulang itu milik Juwana.

“Kita harus melakukan tes DNA untuk memastikan jenazah tersebut adalah jenazah dari Juwana, meski telah ada pengakuan dari pelaku, dan beberapa barang bukti yang ditemukan di TKP,” kata Kasubnit Inafis Polresta Samarinda Aipda Harry Cahyadi, Senin (27/9/2021).

Ditegaskannya, polisi melakukan tes DNA melalui pemeriksaan darah dan contoh rambut. Kedua orang tua korban yang dihadirkan di kamar jenazah RSUD AW Sjahranie pada pagi tadi.

“Tes DNA ini juga bagian dari proses penyidikan untuk menjawab semua keragu-raguan publik, karena saat ditemukan jenazah korban sudah berupa tengkorak dan tidak bisa dikenali fisiknya,” tegasnya.

Setelah polisi melakukan tes DNA, jenazah yang diyakini sebagai Juwana akan segera dimakamkan di makam muslim di Sungai Keledang, Samarinda.

“Jenazah dimakamkan di pemakaman muslimin di Samarinda karena tidak bisa dibawa ke kampung halamannya, karena lokasinya yang sangat jauh di Muara Ancalon yang saat ini juga sedang terjadi banjir,” kata Harry.

Sementara itu, ayah dari Juwana, Subani, mengaku sedih dan sangat terpukul atas kematian putrinya. Sebab, putrinya itu selama ini telah bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga.

“Hukumannya harus yang setimpal sesuai dengan perbuatannya. Kalau perlu dipenjara seumur hidup,” kata Subani sembari berharap pelaku dihukum  dengan seberat-beratnya.

Dengan mata yang berkaca-kaca dan menahan tangis, Subani mengatakan, jika sejak lulus dari sekolah, Juwana memang sudah menjadi tulang punggung keluarga. Putrinya itu berangkat ke Samarinda untuk bekerja.

“Dari lulus sekolah bekerja dan sudah membantu perekonomian keluarga. Anaknya baik dan nurut, saya masih bekerja namun dia mengatakan ingin membantu perekonomian keluarga,” kata Subani.

Sebagai anak satu-satunya, dia kerap memberi kabar, menyapa orang tua, dan meminta doa agar semua pekerjaannya lancar.

“Namun sejak tanggal 6 September lalu kami sudah tidak mendengar kabar dari almarhumah. Keluarga dari Tenggarong mengatakan bahwa Juwana hilang, kami langsung ke Samarinda untuk mencari bahkan kami membuat laporan kehilangan Juhana ke pihak kepolisian,” kata Subani.

“Saya sempat ikut mencari selama 3 hari di Samarinda ke rumah teman, ke rumah kerabat, hingga ke rumah nasabah namun gagal dan tidak membuahkan hasil sama sekali. Kami akhirnya memutuskan kembali pulang ke kampung halaman dan akhirnya diberi tahu korban sudah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia,” pungkasnya.

(RED)