Kalimantan Timur, BeritaTKP.com – Aksi bejat dari AR ,48, pria asal Kabupaten Kutai Timur (Kaltim) itu memperkosa anak tirinya berkali-kali.

Perbuatan bejat AR akhirnya terbongkar. Pria tersebut akhirnya dibekuk pihak kepolisian. AR ditangkap di Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur, Kaltim, pada hari Rabu, 22 September 2021 lalu.

Awalnya, korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada tetangga korban. Tetangga itu lalu memberi tahu ayah kandung korban dan melapor ke pihak kepolisian.

“Usai mendapatkan laporan itu, kemudian kita bawa korban untuk menjalani visum dan langsung mengamankan pelaku di kediamannya, dengan barang bukti pakaian korban,” kata Kanit PPA, Ipda Loewensky Karisoh, Kamis (30/9/2021).

Tindakan AR terhadap korban yang masih berusia 16 tahun atau masih dalam kategori anak-anak berdasarkan undang-undang (UU) memicu kecaman keras. Korban menderita secara fisik maupun psikis.

Belakangan terungkap fakta yang semakin membuat publik tambah geram pada kelakuan AR. Korban mengalami sakit pada bagian alat kelaminnya.

Polisi yang melakukan visum hingga pengecekan ultrasonografi (USG) menemukan adanya alat kontrasepsi yang tertinggal didalam kemaluan korban.

“Itu kan awalnya cuman visum, tapi karena korban mengeluh sakit pada bagian kemaluannya akhirnya dilakukan USG. Dan hasilnya diketahui di dalamnya ada alat kontrasepsi yang nyangkut,” jelas Ipda Loewensky Karisoh.

Dia menjelaskan korban mengaku sudah merasakan sakit pada alat vitalnya sejak awal bulan September. Korban awalnya menduga rasa sakit itu akibat tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah tirinya.

Korban tak menyadari ada alat kontrasepsi yang menyangkut di dalam kemaluannya.

“Korban hanya mengira sakit itu akibat tindak asusila yang dilakukan ayah tirinya. Ternyata saat divisum, sakit itu akibat ada alat kontrasepsi di dalam kemaluannya,” ucapnya.

Aksi bejat AR diduga dilakukan sejak 2020. AR terakhir melakukan aksi bejat terhadap anak tirinya pada Kamis (16/9).

“Peristiwa itu sudah terjadi sudah sekitar satu tahun yang lalu, dan dari pengakuan korban, dalam seminggu ayah tirinya bisa 3 kali memaksa korban untuk berhubungan badan dengannya,” kata Ipda Loewensky.

Namun, tersangka AR mengaku telah 20 kali memperkosa anak tirinya. Dia juga mengelak menggunakan alat kontrasepsi saat memperkosa korban.

“Pelaku mengelak jika memakai alat kontrasepsi saat berhubungan badan dengan anak tirinya,” kata penyidik Satreskrim Polres Kutim, Briptu Fitriana Lestari.

Polisi masih menyelidiki dan mencari fakta-fakta baru dalam kasus ini.

“Pengakuan pelaku dan korban ini berbeda, korban sendiri mengaku seminggu tiga kali disetubuhi, sedangkan pelaku mengaku baru 20 kali, ini yang masih kami dalami lagi,” imbuhnya.

Pihak kepolisian akan memeriksa pihak RS terkait temuan alat kontrasepsi di dalam kemaluan korban.

“Dalam waktu dekat kita akan memanggil pihak dokter untuk meminta keterangan lebih jelas atas temuan alat kontrasepsi di dalam kemaluan korban,” katanya.

Akibat perlakuan bejat AR, korban dan ibunya mengalami trauma yang sangat mendalam. Setelah terungkapnya kasus pemerkosaan yang dialami oleh anak kandungnya, ibu korban saat ini dirawat di rumah sakit (RS).

“Ibu korban sangat syok atas kejadian ini dan saat ini tengah menjalani perawatan di RS, sedangkan korban kami antar ke rumah ayah kandungnya,” ungkapnya.

Tersangka AR menjalankan aksi bejatnya tersebut pada siang hari saat ibu korban pergi berjualan hingga larut malam di perusahaan.

Pelaku juga selalu mengancam menggunakan senjata tajam. AR mengancam akan membunuh korban jika perbuatannya diketahui orang lain.

“Pelaku ini juga membatasi ruang gerak korban, korban tidak diperbolehkan ke mana-mana hingga menyita HP korban, agar korban tak dapat berkomunikasi dengan siapa pun,” kata dia.

Saat ini pelaku telah ditahan di Polres Kutai Timur guna diperiksa lebih lanjut. Tersangka dijerat pasal berlapis.

AR dijerat Pasal 81 ayat (1), (2), (3) UU RI No 17 Tahun 2016, tentang penetapan Perppu No 01 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 KUHP. Pelaku terancam pidana 18 tahun. (RED)