DIY,BeritaTKP.com – Sepasang suami istri pengurus Rumah Kasih Sayang di Slema, DIY ditangkap polisi. Mereka ditangkap karena melakukan penganiayaan terhadap anak asuh difabel, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa tongkat bambu hingga borgol.

Pasutri itu yakni pria berinisial LO ,49, dan istrinya berinisial IT ,48,. Sementara korban ialah remaja laki-laki berinisial AL ,17,.

“Jadi pelaku ini ada dua, pasutri. Pelaku ini mempunyai rumah penitipan untuk anak-anak yang disabilitas,” kata Kanit PPA Polres Sleman Iptu Yunanto Kukuh di Mapolres Sleman, Selasa (5/10/2021) kemarin.

Kasus ini terungkap setelah orang tua korban yang menitipkan anaknya kepada pelaku sejak tahun 2019 lalu merasa curiga. Sebab, setiap kali orang tua korban yang berasal dari Lampung ingin menghubungi korban selalu dipersulit oleh pelaku.

“Ibu korban ini mau video call dengan anaknya tapi oleh pelaku selalu menolak dengan berbagai alasan yang diberikan,” jelasnya.

Puncaknya, saat ibu korban mengunggah foto anaknya di media sosial Facebook. Dari situ, ada salah satu mantan pegawai rumah penitipan itu kemudian memberi komentar dan menyarankan agar anaknya segera diambil dari sana.

“Kemudian setelah diambil karena mungkin keadaan anaknya tertekan, karena banyaknya penganiayaan atau siksaan yang diberikan oleh pengasuhnya itu kemudian dilaporkan ke kami,” paparnya.

Dijelaskan Kukuh, siksaan yang diterima oleh korban terus dilakukan hingga Juli 2021 lalu.

“Dari pengakuan korban bentuk siksaan yang diterima yakni setiap malam diborgol di tiang, kemudian disiram menggunakan air panas, dipukul menggunakan tongkat, disulut menggunakan api,” ungkapnya.

Hasil pemeriksaan terhadap tersangka, motif penyiksaan itu didasari karena rasa jengkel.

“Pelaku melakukan penganiayaan karena mungkin susah diatur, tidak menurut. Karena jengkel pelaku melakukan hal yang bisa membuat kapok korban,” jelasnya.

Kukuh menyebut, selain AL ada juga korban lain yang juga menerima siksaan. Hanya saja, mereka tidak melaporkan kasus ini ke polisi.

Kini, polisi telah menutup rumah penitipan anak itu karena tidak layak dan tidak memiliki izin. Sementara untuk anak asuh yang lain dititipkan ke Magelang.

“Kemudian dari anaknya sekitar 17 orang melalui Kemensos kami titipkan di BRSAMPK Antasena Magelang,” sebutnya.

Polisi pun mengamankan barang bukti berupa tongkat bambu yang digunakan untuk memukuli korban, borgol, gelas yang digunakan untuk menyiram air panas ke tubuh korban dan tang. Pelaku dijerat dengan Pasal 80 UU No 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 351 KUHP. (RED)