Jakarta, BeritaTKP.com – Seorang pengamat Kepolisian yaitu Didi Sungkono S.H.,M.H., memberikan tanggapan tentang perilaku oknum  saat bertugas dan membanting seorang mahasiswa saat berdemo yang menjadi viral di media sosial.

Didi Sungkono berkata, “Tindakan polisi yang membanting mahasiswa saat berdemo di Kabupaten Tangerang harus menjadi intropeksi diri bagi Polri”. Kata Didi

Pengamat kepolisian ini mengingatkan, dulu saat menjalani uji kelayakan di DPR, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah berjanji bahwa seluruh anggota Polri akan bertindak humanis dalam melaksanakan tugas.

Tugas Polri tidak bisa lepas dari UU No 02 Tahun 2002 Tentang Kepolisian dan juga harus bisa memahami UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM, tidak boleh Represif dalam menghadapi mahasiswa yang masih remaja, mereka itu calon pemimpin masa depan bangsa, bukan segerombolan yang tidak beratribut, jadi lebih humanis dan profesional, bukan adu fisik, adu piting dan dibanting, bukankah Polri juga sudah diajarkan tentang UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM.

Dalam menangani demontrasi anggota Polri sudah dibekali oleh PERKAP dan SOP, harus tetap terukur dan prosedural,tidak boleh arogan, dan bertindak brutal, oknum tersebut harus berikan sanksi tegas,” Urainya.

“Saya kira ini menjadi introspeksi yang dalam kepada Polri agar tetaplah kembali kepada semangat Promoter,Presisi, yang menjadi tagline-nya Kapolri , Tidak ada lagi banting-membanting, tidak ada lagi represif, yang ada adalah humanis, karena itu yang sudah dijanjikan oleh, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.SIK, Ujar,” jelas Didi Sungkono

Oleh sebab itu, ia meminta agar seluruh jajaran Polri, mulai dari pusat sampai ke daerah, dapat menangani aksi penyampaian pendapat dengan humanis, jangan sampai ada peserta aksi demo yang cedera secara fisik.

Kapolda harus mendorong Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri untuk menegakkan aturan yang berlaku agar peristiwa serupa tidak terulang lagi.

“Biarkan kepolisian untuk memastikan, menyidiknya, atau memeriksanya sampai batas mana, tapi yang jelas bahwa publik melihat sesuatu yang tidak patut itu, sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang aparat penegak hukum,” sambungnya.

Namun, Pengamat Kepolisian satu ini menilai, pimpinan kepolisian di wilayah tersebut harus dimintai pertanggungjawaban dari perbuatan salah satu anggotanya tersebut.

Menurut Didi Polri dapat menerapkan sanksi pencopotan seperti yang dijatuhkan kepada Kapolsek Percut Sei Tuan AKP Janpiter Napitupuli yang dinilai tidak profesional dalam menangani sebuah kasus.

”Masyarakat memberikan apresiasi kapolda (Sumatera Utara) karena langsung copot kapolseknya, itu tanggung jawab paling tidak ke atasnya. Jadi yang ini juga bisa dipakai untuk tanggung jawab satu tingkat ke atasnya,” Urai Didi.

Perlu masyarakat ketahui bahwa peristiwa yang diberitakan sebelumnya bermula dari seorang anggota polisi yang membanting seorang peserta aksi demo di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, saat peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-389 Kabupaten Tangerang, Rabu (13/10/2021).

Peristiwa itu tidak sengaja terekeam dan menjadi viral di media sosial. Dalam video tersebut Nampak seorang mahasiswa yang sedang dipiting oleh salah seorang oknum polisi, setelah itu oknum tersebut membanting mahasiswa itu layaknya dalam aksi smackdown. Tak lama usai dibanting mahasiswa tersebut mengalami kejang-kejang dan oknum tersebut meninggal mahasiswa yang sedang kejang-kejang itu.(RED)