JAKARTA, BeritaTKP.com – Dua orang remaja berusia 16 dan 17 tahun ditangkap polisi karena terlibat aksi tawuran maut di Menteng, Jakarta Pusat. Sebelum terjadi aksi tawuran, kedua remaja tersebut telah mengonsumsi narkoba. Hal itu juga diperkuat dengan hasil tes urine keduanya yang positif.

“Kedua pelaku, setelah dites, urinenya positif mengandung metamfetamin,” ujar Wakapolres Metro Jakarta Pusat AKBP Setyo Koes Heriyatno dalam konferensi pers, Selasa (19/10/2021).

“Mereka mengaku, sebelum melakukan aksi tawuran, mereka menggunakan sabu, minum pil, dan terpengaruh alkohol,” kata Setyo.

Setyo juga mengatakan narkoba ini sangat berkorelasi dengan aksi tawuran yang kerap terjadi di wilayah Jakarta Pusat. Dalam pemeriksaan lanjutan, kedua pelaku ternyata baru mengkonsumsi narkoba dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

“Jadi korelasi antara penyalahgunaan narkoba dengan tindak pidana yang terjadi di Polres Metro Jakarta Pusat sangat terkait,” sambungnya.

Diketahui peristiwa maut itu terjadi di Jalan Penataran, Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (10/10) pukul 04.45 wib kemarin. Setyo juga menyebut para pelaku dan korban yang terlibat dalam tawuran masih anak-anak di bawah umur.

Korban seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun. Sedangkan kedua pelaku tawuran remaja laki-laki, masing-masing berusia 16 dan 17 tahun.

Setyo mengatakan, dalam penangkapan pelaku, orang tua mereka juga berperan penting dalam memberikan informasi kepada pihak kepolisian.

“Jadi penegasan saja bahwa penangkapan ini juga atas peran serta dari keluarga karena mereka ini masih di bawah umur 18 tahun, istilahnya masih dalam masa binaan keluarga. Namun kita juga berupaya akhirnya mereka dapat kita amankan,” kata Setyo.

Dalam penangkapan pelaku, polisi juga turut mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya adalah sebilah celurit sepanjang 1 meter, tiga buah sweater, satu buah celana panjang dan satu buah celana pendek. Selain itu, polisi juga mengamankan satu batang tombak yang terbuat dari besi pipa sepanjang 2 meter.

“Jadi memang dalam persangkaannya 170 KUHP tapi ini dalam penanganan tindak pidana anak selalu dibatasi dalam UU Perlindungan Anak dan penanganannya harus tidak boleh keluar dari hukum acara pidana anak,” tutup Setyo.

(RED)